Ilustrasi tambang batu bara. Foto: AFP
Ilustrasi tambang batu bara. Foto: AFP

Harga Batu Bara dan Permintaan Turun, Laba PTBA Anjlok 35,64%

Ekonomi Emiten batu bara ptba
Annisa ayu artanti • 30 September 2020 11:57
Jakarta: Laba bersih PT Bukit Asam Tbk (PTBA) pada semester I-2020 tercatat hanya Rp1,3 triliun atau anjlok 25,64 persen dibandingkan capaian semester I-2019 yang sebesar Rp2,02 triliun.
 
Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan tertekannya laba ini lantaran pandemi covid-19 yang membuat harga batu bara dan permintaan menurun sepanjang enam bulan pertama 2020.
 
"Memang kalau kita bandingkan dengan tahun lalu, kinerja ini memang sedikit lebih rendah. ini karena dampak pandemi covid yang kita rasakan sejak Maret hingga hari ini," kata Ariviyan dalam konferensi pers virtual, Rabu, 30 September 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mengacu laporan keuangan perseroan, pendapatan emiten tambang pelat merah ini juga merosot dari Rp10,6 triliun menjadi Rp9,01 triliun. Arviyan menjelaskan selama pandemi permintaan dalam negeri yakni dari PT PLN (Persero) dan permintaan dari negara-negara tujuan ekspor mengalami penurunan.
 
"Kita perhatikan baik permintaan dalam negeri dan ekspor mengalami penurunan yang luar biasa. Ini tidak lepas dari penggunaan batu bara dari negara-negara (tujuan ekspor) dan PLN sendiri," jelasnya.
 
Adapun harga batu bara, Arviyan melanjutkan merosot di atas 20 persen. Tercatat, harga batu bara acuan (HBA) turun hampir 20 persen dari USD66 per ton pada Januari 2020 menjadi USD52 per ton.
 
Sedangkan untuk Newcastle Index harga batu bara turun sebesar 26 persen. "Ini tentunya secara tidak langsung berdampak pada kinerja keuangan kita, laba kita Alhamdulillah masih bisa mencapai Rp1,3 triliun," ujarnya.
 
Lebih lanjut, Arviyan juga menyampaikan perolehan laba bisa dicatatkan perseroan karena perusahaan melakukan beberapa efisiensi seperti menurunkan biaya operasional, menurunkan harga pokok produksi (HPP), dan menurunkan biaya usaha.
 
Pada laporan keuangan biaya pokok pendapatan mengalami penurunan dari Rp6,9 triliun pada semester I-2019 menjadi Rp6,4 triliun. Kemudian, biaya penjualan dan pemasaran dari Rp389,2 miliar menjadi Rp341,84 miliar.
 
"Biaya-biaya yang memang tidak begitu berpengaruh pada usaha dan produksi itu kita hentikan. Ini kita lakukan," pungkasnya.

 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif