Menteri BUMN Erick Thohir - - Foto: Medcom/ Suci Sedya
Menteri BUMN Erick Thohir - - Foto: Medcom/ Suci Sedya

Erick: Buyback BUMN Buktikan RI Tak Tergantung Investor Asing

Ekonomi bumn saham Buyback
Suci Sedya Utami • 11 Maret 2020 15:16
Tangerang: Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan aksi membeli kembali atau buyback saham oleh belasan perusahaan menjadi bukti bahwa Indonesia tidak tergantung pada investor asing.
 
Rencana buyback yang dilakukan oleh 12 perusahaan BUMN dengan total nilai Rp8 triliun itu bertujuan untuk meminimalisir penurunan saham yang terekam di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
 
Menurutnya, aksi buyback ini serupa dengan penerapan kebijakan biodiesel 30 persen. Ketika kelapa sawit diperangi asing, Indonesia membuktikan bahwa produk sawitnya bisa digunakan secara berkelanjutan di dalam negeri.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Kita negara besar, enggak perlu khawatir sama mereka, tapi kita juga enggak boleh anti mereka (asing),” kata Erick di Bandara Soetta, Cengkareng, Banten, Rabu, 11 Maret 2020.
 
Karena itu, Erick menekankan pentingnya perusahaan BUMN berkinerja baik sehingga bisa memberikan setoran dividen yang besar. Setoran itu bisa digunakan sebagai langkah penyelamatan ketika kondisi pasar diguncang ketidakpastian.
 
“Ini pentingnya buyback, makanya kita ingin pastikan dividen meningkat supaya kalau dividennya konsisten, ya dia mampu beli (buyback). Ini juga untuk lawan saham-saham gorengan atau saham kurang baik. Perlu edukasi masyarakat harus ditingkatkan,” ujar Erick.
 
Dalam kesempatan sama, Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo yakin buyback akan menciptakan kepercayaan investor dalam negeri. Ia bilang ada sentimen positif dari rencana buyback yang akan dilakukan oleh 12 perusahaan tersebut.
 
“Kami yakin para investor dalam negeri beli saham lagi, sentimen positif sudah mulai ada,” ujar pria yang akrab disapa Tiko ini.
 
Saat ini perusahaan tersebut tengah rapat dengan jajaran komisaris. Kartika menyebut dalam satu hingga dua hari ke depan 12 perusahaan akan menyampaikan keterbukaan informasi.
 
Adapun aksi buyback akan dilakukan secara bertahap dan sangat tergantung pada kemampuan likuiditas serta fundamental masing-masing perusahaan.
 
Nmun demikian, tidak ada suntikan modal untuk buyback. Dana buyback akan tergantung dari likuiditas masing-masing perusahaan menggunakan dana internalnya.
 
“Jadi kemarin mapping yang sahamnya jauh dari fundamentalnya bisa masuk bertahaplah, enggak langsung sekaligus. Jadi tergantung selisih nilai fundamentanya,” ujar Tiko.

 
Belasan perusahaan tersebut di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).
 
Dari sektor konstruksi, ada PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT PP Tbk (PTPP), PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Lalu dari sektor pertambangan, ada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Timah Tbk (TINS).
 

(Des)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif