| Baca juga: 6 Investasi yang Bisa Kamu Pilih dari Uang THR |
The Mogus merupakan sosok gurita yang dibuat dengan teknik rajutan yang kaya detail dan tekstur. Karya ini menunjukkan sosok gurita dengan ekspresi dan postur yang mewakili perasaan yang relevan dengan dunia manusia. Oleh Mangmoel, rajutan yang selama ini kerap dipandang sebagai aktivitas domestik dan dilekatkan pada ranah feminin diolah menjadi medium ekspresi artistik yang kuat. Melalui pendekatan modular, Mangmoel menyusun elemen-elemen kecil menjadi komposisi visual yang megah tanpa menghilangkan jejak sentuhan manusia.
Proses merajut sendiri menuntut ketelatenan, kesabaran, dan keterampilan tersebut juga dapat dimaknai sebagai metafora relasi manusia dengan alam serta mewakili spirit investasi yang mendasari kolaborasi ini. William, Head of PR & Corporate Communication perusahaan, menyampaikan bahwa sosok gurita memiliki relevansi dengan investor Bibit dan Stockbit.
“Secara sederhana, gurita yang memiliki banyak tentakel melambangkan pentingnya diversifikasi dalam berinvestasi. Selain itu, kehadiran The Mogus lewat sosok gurita yang dapat mereproduksi dirinya sendiri saat tentakelnya putus mewakili semangat, ketahanan, dan keyakinan dalam berinvestasi,” tegas dia dalam keteranganya.
Dia menuturkan di tengah kondisi geopolitik yang dinamis seperti hari ini, kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Saat tentakelnya putus, gurita menumbuhkannya kembali dan menjadi lebih kuat, peka, dan menjangkau. Setiap investor pasti pernah menghadapi kemunduran dan keadaan yang tidak sesuai harapan.
“Tetapi, Stockbit dan Bibit percaya bahwa investor sejati tidak mundur dan justru beregenerasi. Kekayaan tidak hanya dibangun di saat-saat baik, tetapi terus dibangun ulang dari setiap kehilangan, pelajaran, dan ‘tentakel’ yang tumbuh kembali,” jelas William.
Sifat natural dari sosok gurita di atas menjadikan investasi sebagai sebuah sistem yang bersifat autopoiesis atau dapat mereproduksi dirinya sendiri. Seperti gurita yang dapat meregenerasi tentakelnya yang putus, investasi juga dapat mereproduksi investasi lainnya dan membantu masyarakat membangun kekayaannya secara jangka panjang.
Jadi, investasi untuk membangun kekayaan itu dibangun atas investasi yang dilakukan sebelumnya, diberdayakan serta diinvestasikan kembali sekalipun sedang menghadapi pasang-surut perekonomian. Kekayaan tidak dibangun dari satu kali investasi, namun lewat upaya berkelanjutan yang dibangun dari kecil, bertumbuh, diuji, bertahan, dan pada akhirnya kembali pada bentuk terbaiknya.
Di sisi lain, Bibit juga menyoroti perkembangan industri pasar modal Indonesia yang terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hingga April 2026, jumlah investor tercatat telah melampaui 26 juta orang, dengan mayoritas berinvestasi di instrumen reksa dana.
Melihat potensi tersebut, Bibit bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan pelaku industri lainnya meluncurkan program “Pintar Reksa Dana”. Program ini bertujuan mendorong masyarakat untuk berinvestasi secara lebih terencana dan sistematis. Bibit sendiri mencatat lebih dari 8 juta investor aktif hingga akhir 2025.
Dalam hal preferensi investasi, Bibit melihat tren investor yang cenderung berhati-hati di tengah volatilitas pasar. Instrumen seperti reksa dana pasar uang dan obligasi masih menjadi pilihan utama, meskipun sebagian investor mulai mencicil masuk ke saham.
Namun demikian, Bibit menekankan bahwa kunci utama dalam membangun portofolio investasi bukan pada pemilihan instrumen semata, melainkan konsistensi.
“Yang paling penting adalah systematic investment plan atau nabung rutin. Ini yang menjadi fondasi investasi jangka panjang,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News