Ilustrasi wakaf. Foto: Medcom.id
Ilustrasi wakaf. Foto: Medcom.id

RI Tiru Arab Saudi, Manfaatkan Wakaf dan Zakat Bangun Zamzam Tower

Ekonomi Bank Indonesia arab saudi keuangan syariah
Husen Miftahudin • 08 Oktober 2020 23:34
Jakarta: Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng memandang pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dapat menjadi salah satu pemicu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Pemanfaatan ekonomi dan keuangan syariah bisa mendorong aktivitas sektor riil yang bisa menyerap banyak tenaga kerja.
 
Untuk mewujudkan hal tersebut, maka ekonomi dan keuangan syariah tidak cukup hanya dibekali dengan instrumen keuangan komersial. Ekonomi dan keuangan syariah perlu didukung instrumen keuangan sosial seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
 
"Kita coba lihat negara lain, banyak instrumen keuangan sosial yang sudah tumbuh dan berkembang baik berupa wakaf maupun zakat. Kita lihat misalnya di Arab Saudi. Negara tersebut telah memanfaatkan wakaf produktif dengan skema sukuk al-intifa' telah berhasil membangun Zamzam Tower di dekat Ka'bah," ujar Sugeng dalam High Level Seminar on Waqf secara virtual di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, perbankan syariah di Bahrain juga telah menginisiasi pengumpulan wakaf untuk disalurkan kepada keluarga yang terkena dampak covid-19. Bahkan Singapura juga telah mengembangkan pemanfaatan sukuk wakaf untuk mengelola apartemen yang dilakukan oleh Majlis Ugama Islam Singapore (MUIS).
 
"Oleh karena itu Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia tentunya tidak boleh ketinggalan. Terlebih potensi Indonesia yang sangat besar di bidang ekonomi dan keuangan syariah," ungkapnya.
 
Dari sisi permintaan (demand), potensi ekonomi dan keuangan syariah sangat besar lantaran mayoritas penduduk Indonesia merupakan muslim. Kemudian hampir 60 persen penduduk Indonesia merupakan kaum milenial yang berpotensi menelurkan ide inovasi instrumen keuangan sosial syariah ke depan.
 
"Indonesia juga memiliki lebih dari 20 ribu pesantren, dan yang di situ ada dua juta santri. Hal ini tentunya menjadi satu potensi untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah ke depan," ucap Sugeng.
 
Dari sisi suplainya, Indonesia saat ini sudah memiliki 14 Bank Umum Syariah (BUS), 20 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 163 Badan Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yang tersebar di seluruh Indonesia. Serta Ada sekitar 4.500 lembaga keuangan mikro syariah yang bisa dioptimalkan untuk pengembangan ekonomi dan keuangan syariah ke depan.
 
Mencermati kondisi dan perkembangan itu, sebut Sugeng, Bank Indonesia telah menyusun blueprint pengembangan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia yang terdiri dari tiga pilar. Pertama,pemberdayaan ekonomi syariah antara lain melalui penguatan ekosistem halal value chain.
 
"Kedua adalah pendalaman pasar keuangan syariah, salah satunya melalui penguatan instrumen keuangan sosial. Ketiga penguatan riset dan edukasi," jelas dia.
 
Sugeng bilang, pada dasarnya ketiga pilar tersebut merupakan satu kesatuan strategi yang terintegrasi. Pilar ekosistem halal value chain misalnya, perlu didukung pilar pembiayaan ekonomi syariah.
 
Kemudian penguatan literasi yang merupakan pilar ketiga akan mendukung secara simultan pilar satu dan dua melalui peningkatan pemahaman masyarakat atas instrumen keuangan komersial maupun instrumen keuangan sosial.
 
"Dalam konteks ini terlihat bahwa optimalisasi wakaf perlu diawali dengan peningkatan literasi masyarakat. Setelah pemahaman masyarakat akan meningkat, tentu kita harapkan wakaf akan berkembang dan dapat mendukung penguatan ekosistem halal value chain," tutup Sugeng.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif