Ilustrasi Rupiah. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin.
Ilustrasi Rupiah. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin.

Rupiah Kembali Menguat Berkat Proyeksi Moderasi Suku Bunga Fed

Husen Miftahudin • 23 November 2022 17:15
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami penguatan pada penutupan hari ini. Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu, 23 November 2022, berada di level Rp15.686 per USD, naik 10 poin atau setara 0,06 persen dari posisi Rp15.696 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
 
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah ini utamanya disebabkan karena investor meredam selera risiko menjelang rilis risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve yang dapat memberikan petunjuk tentang prospek inflasi dan suku bunga serta meningkatnya kasus covid-19 di Tiongkok dan pengenalan pembatasan baru membebani sentimen.
 
"The Fed pada Rabu akan merilis risalah dari pertemuan terbarunya, dengan investor mencari tanda-tanda diskusi seputar memoderasi laju kenaikan suku bunga," ungkap Ibrahim dalam analisis hariannya, Rabu, 23 November 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ketua Fed Jerome Powell mengatakan moderasi laju kenaikan suku bunga akan dilakukan pada bulan ini. Sementara biaya pinjaman perlu dinaikkan lebih lanjut, bank sentral mungkin menaikkan suku bunga dengan kenaikan yang lebih kecil di masa depan.
 
Di sisi lain, kota-kota besar di Tiongkok, salah satunya Kota Chengdu, memperkenalkan lebih banyak pembatasan untuk menahan kenaikan infeksi baru yang mencapai rekor tertinggi. Pasar khawatir tindakan tersebut akan menyebabkan lebih banyak gangguan dalam aktivitas bisnis, menekan ekonomi Tiongkok.
 
"Pembacaan ekonomi yang lemah untuk Oktober menunjukkan infeksi yang meningkat telah mempersingkat pemulihan kuartal ketiga dalam ekonomi Tiongkok, dengan pemerintah memberikan sedikit indikasi ia akan lebih jauh mengurangi kebijakan nol covid-19 yang ketat," paparnya.
 
Baca juga: Ditutup Rp15.686/USD, Rupiah Berhasil Menguat Lagi!

 
Dari dalam negeri, Ibrahim meminta pemerintah harus tetap waspada dan mencari jalan keluar terbaik guna untuk bisa mempertahankan pertumbuhan ekonominya di atas lima persen. Apalagi permintaan komoditas di negara Eropa pada 2023 kemungkinan akan berkurang, sehingga butuh strategi baru untuk menahan inflasi yang kemungkinan masih tinggi.
 
Selain itu, Bank Indonesia juga akan terus melakukan bauran strategi ekonomi guna untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah serta terus melakukan intervensi besar di pasar valuta asing, Obligasi di perdagangan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), walaupun berimbas terhadap menurunnya cadangan devisa.
 
"Namun apa yang dilakukan oleh BI sudah sesuai dengan regulasi yang bertujuan untuk menahan pelemahan mata uang rupiah imbas kenaikan inflasi global," jelas dia.
 
Ibrahim memprediksi, rupiah pada perdagangan besok akan bergerak secara fluktuatif meskipun kemungkinan besar masih mengalami pelemahan. "Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp15.670 per USD hingga Rp15.740 per USD," tutup dia.
 
*Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id*
 
(HUS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif