Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa mengatakan kesepakatan tersebut menandai berkurangnya risiko geopolitik secara signifikan setelah lebih dari tiga bulan konflik yang sempat mengganggu pasar energi global dan membatasi arus perdagangan melalui Selat Hormuz.
| Baca juga: Masih Dalam Tekanan Dollar AS, Rupiah Tembus Rp17.764/USD |
"Perkembangan ini akan disambut positif oleh pasar keuangan karena mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan premi risiko geopolitik," ujar Jessica dalam risetnya.
Menurut dia, meredanya ketegangan telah mendorong penurunan harga minyak dunia. Harga minyak Brent tercatat turun ke level USD83,8 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD80,8 per barel.
Penurunan harga energi tersebut berpotensi menekan tekanan inflasi global sekaligus mengurangi beban fiskal negara-negara net importir minyak, termasuk Indonesia.
Di sisi domestik, Jessica menilai Bank Indonesia (BI) masih agresif menjaga stabilitas nilai tukar melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Pada lelang Jumat lalu, BI menyerap dana sebesar Rp36 triliun sehingga total penyerapan mingguan mencapai Rp51 triliun atau meningkat sekitar 70 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Angka tersebut menjadi penyerapan mingguan tertinggi yang tercatat sejauh ini. Selain itu, BI tetap menawarkan tingkat imbal hasil yang kompetitif, yakni 7,3 persen untuk tenor enam bulan, 7,4 persen untuk tenor sembilan bulan, dan 7,6 persen untuk tenor 12 bulan.
Jessica menjelaskan tenor 12 bulan mendominasi hasil lelang dengan nilai mencapai Rp30 triliun atau sekitar 83 persen dari total nominal yang dimenangkan. Hal itu menunjukkan SRBI masih menjadi instrumen utama BI untuk menarik arus masuk modal portofolio sekaligus menjaga stabilitas rupiah.
"BI masih mengandalkan SRBI untuk menarik aliran dana asing, menjaga stabilitas rupiah, dan secara bertahap mengurangi intervensi langsung di pasar surat berharga negara," jelasnya.
Kinerja rupiah juga menunjukkan perbaikan. Hingga Jumat lalu, mata uang Garuda menguat 0,02 persen secara month-to-date (MTD) ke level Rp17.870 per dolar AS. Penguatan tersebut didukung pelemahan indeks dolar AS (DXY) ke level 99,7 serta membaiknya sentimen pasar setelah BI menaikkan suku bunga secara off-cycle dan menerapkan lelang SRBI dua kali dalam sepekan.
Sentimen positif tersebut turut tercermin di pasar obligasi. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun menjadi 7,42 persen, sementara yield tenor dua tahun berada di level 7,28 persen.
Meski demikian, spread antara obligasi pemerintah Indonesia dan US Treasury masih bertahan tinggi, yakni 297,4 basis poin untuk tenor 10 tahun dan 323 basis poin untuk tenor dua tahun.
Dengan kondisi tersebut, Jessica tetap melihat prospek positif pada instrumen pendapatan tetap tenor pendek. Menurut dia, fokus BI dalam menjaga daya tarik yield dan mendorong arus masuk modal akan menjadi faktor penting di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda