Berdasarkan data pasar, Investing kurs rupiah tercatat turun 0,06 persen atau sekitar 10,9 poin ke level Rp17.764,9 per dolar AS. Sedangkan Indeks Dolar AS justru turun 0,17 persen ke posisi 99,317, menandakan melemahnya mata uang AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
| Baca juga: Di Tengah Isu Rupiah, Wamenperin: Industri Kita Punya Fundamental yang Baik |
Sementara itu, pergerakan rupiah terhadap sejumlah mata uang regional menunjukkan kinerja yang relatif positif. Rupiah menguat terhadap baht Thailand, ringgit Malaysia, dolar Singapura, euro, hingga yuan China.
Terhadap ringgit Malaysia, rupiah menguat 0,36 persen ke level Rp4.388,29. Sementara dollar Singapura terkoreksi 0,39 persen menjadi Rp13.859,46. Euro juga melemah terhadap rupiah dengan penurunan 0,42 persen ke posisi Rp20.586,0.
Adapun yuan China menjadi mata uang yang mengalami pelemahan terbesar terhadap rupiah pada perdagangan pagi dengan tercatat turun 0,50 persen ke level Rp2.628,99. Meski demikian, pergerakan dolar AS yang masih bertahan di kisaran Rp17.700 per dolar tetap menjadi perhatian investor dan pelaku pasar.
Arah kebijakan suku bunga global, perkembangan geopolitik, serta arus modal asing diperkirakan akan terus memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Harga emas dunia menjadi sorotan utama. Logam mulia tersebut mencatat lonjakan signifikan sebesar 2,49 persen atau naik 104,88 poin ke level USD4.324,20 per troy ons.
Kenaikan harga emas mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset aman di tengah ketidakpastian pasar global. Sentimen tersebut biasanya muncul ketika pelaku pasar mencari instrumen investasi yang dianggap lebih stabil dibandingkan aset berisiko.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda