Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Garibaldi Thohir. Foto : Medcom/Suci.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Garibaldi Thohir. Foto : Medcom/Suci.

Laba Adaro Turun 3% Tergerus Harga Batu Bara

Ekonomi adaro energy
Annisa ayu artanti • 04 Maret 2020 14:17
Jakarta: Laba PT Adaro Energy Tbk sepanjang 2019 mengalami penurunan 13 persen dibandingkan 2018. Adaro mencatat laba 2019 sebesar USD635 juta sedangkan pada 2018 sebesar USD728 juta.
 
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Garibaldi Thohir mengatakan laba tersebut tergerus karena penurunan harga batu bara. Perusahaan kata Garibaldi mampu mempertahankan pertumbuhan volume batu bara dan melakukan pengendalian biaya operasional sehingga penurunan laba bisa ditahan.
 
Volume batu bara sepanjang 2019 mencatat peningkatan produksi sebesar tujuh persen menjadi 58,03 juta ton sepanjang 2019, atau melebihi panduan yang ditetapkan yaitu pada kisaran 54 juta sampai 46 juta ton.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami gembira dengan kinerja perusahaan pada 2019, karena di tengah pasar yang sulit, kami berhasil mencetak kinerja finansial yang solid berkat pertumbuhan volume tahunan yang tinggi dan pengendalian biaya yang berkelanjutan," kata Garibaldi dalam keterangan tertulinya, Rabu, 4 Maret 2020.
 
Dari sisi pendapatan usaha, perusahaan berkode emiten ADRO tersebut mencatat penurunan empat persen menjadi USD3,45 juta. Pendapatan tergerus karena harga jual rata-rata turun 13 persen. Sementara untuk beban pokok pendapatan, perusahaan mencatat kenaikan tiga persen menjadi USD2,49 juta. Kenaikan beban pokok tersebut disebabkan oleh kenaikan volume produksi pada 2019.
 
Nisbah kupas gabungan tercatat mencapai 4,69 kali, atau lebih tinggi daripada panduan yang ditetapkan sebesar 4,56 kali. Biaya kas per ton batu bara turun empat persen (yoy) seiring peningkatan produksi, penuruan nisbah kupas, serta penurunan biaya bahan bakar.
 
Untuk beban usaha sepanjang 2019, perusahaan mencatat peningkatan 20 persen dari sebelumnya USD194 juta pada periode 2018 menjadi USD233 juta.
 
Sedangkan mengenai total aset sepanjang 2019, Adaro mencatat USD7,21 juta lebih tinggi dua persen daripada pada periode yang sama tahun sebelumnya. Aset lancar naik 32 persen menjadi USD2,11 juta, sementara aset non lancar turun enam persen menjadi USD5,1 juta. Pada akhir 2019, kas naik 70 persen menjadi USD1,57 juta.
 
Melihat capaian tersebut, perusahaan menargetkan produksi batu bara pada tahun 2020 sekitar 54 sampai 58 metrik ton (Mt). Nilai nisbah kupas konsolidasi sebesar 4,3 kali. EBITDA operasional sekitar USD900 juta sampai USD1,2 miliar. Belanja modal tahun ini USD300 sampai USD400 juta.
 
"Kami memperkirakan pada 2020 pasar akan tetap sulit dan kami akan melanjutkan fokus terhadap upaya peningkatan keunggulan operasional, pengendalian biaya dan efisiensi, serta eksekusi strategi demi kelangsungan bisnis," pungkas dia.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif