Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada awal perdagangan Senin, 21 September 2026. Pergerakan IHSG berlawanan dengan mayoritas bursa saham Asia yang menguat pada sesi pagi.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) per pukul 09.30 WIB, IHSG melemah 29,57 poin atau 0,46% ke level 6.411,58. Koreksi tersebut membuat IHSG menjadi salah satu indeks dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia yang terpantau pada pagi ini.
Baca juga: IHSG Menguat ke 6.512,57, Investor Pantau 6 Saham Ini |
Di kawasan Asia Tenggara, indeks FTSE Bursa Malaysia KLCI juga berada di zona merah. Indeks Malaysia tercatat turun tipis 0,09% ke level 1.664,00. Sementara itu, sejumlah bursa utama Asia bergerak menguat. Nikkei 225 Jepang tercatat naik 1,38%, disusul Straits Times Singapura yang menguat 0,63%.
Penguatan juga terjadi pada Shanghai Composite China sebesar 0,50% dan Hang Seng Hong Kong sebesar 0,48%. Indeks PSEi Filipina turut naik 0,37%. Bursa saham Vietnam dan Thailand juga tercatat berada di zona hijau pada perdagangan pagi.
Pergerakan IHSG yang berbeda arah dengan mayoritas bursa regional terjadi di tengah perhatian investor terhadap perkembangan pasar domestik, termasuk pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pelaku pasar juga mencermati arus dana investor serta sejumlah sentimen yang dapat memengaruhi pergerakan indeks sepanjang perdagangan hari ini. Pergerakan IHSG selanjutnya akan bergantung pada perkembangan transaksi saham dan sentimen pasar hingga akhir sesi perdagangan.
Investor juga akan mencermati apakah tekanan jual pada awal perdagangan berlanjut atau IHSG mampu mengurangi pelemahannya pada perdagangan sesi berikutnya.
Beban Kenaikan Suku Bunga The Fed
Kepala Ekonom PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mencatat IHSG turun 1,53% secara mingguan atau week-on-week (WoW) ke level 6.441 pada perdagangan pekan lalu. Penurunan IHSG tersebut juga diikuti aksi jual bersih investor asing. Rully mencatat foreign net sell di pasar reguler mencapai Rp1,78 triliun sepanjang pekan lalu.
Menurutnya, tekanan terhadap pasar saham meningkat setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan atau Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%.
Kebijakan tersebut turut mendorong indeks dolar AS atau DXY menembus level 100. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun atau US Treasury 10-Year Yield (UST10Y) kembali mendekati level 5%.
"Tekanan meningkat setelah The Fed menaikkan FFR 25bps ke 3,75–4,00%, mendorong DXY menembus 100 dan UST10Y kembali mendekati 5%," ujar Rully dalam risetnya.
Memasuki pekan ini, perhatian pelaku pasar mulai bergeser dari keputusan The Fed menuju dampaknya terhadap pasar domestik, khususnya pergerakan rupiah dan respons Bank Indonesia.
Rully menilai stabilitas nilai tukar menjadi salah satu faktor penting yang membatasi ruang kebijakan BI. Rupiah saat ini kembali bergerak di kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS.
Selain rupiah, pelaku pasar juga akan mencermati pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan arus dana investor asing. Rebalancing indeks FTSE yang berlangsung pada penutupan perdagangan Jumat juga telah efektif mulai hari ini.
"Perhatian pasar kemungkinan kembali ke Rupiah, global yields, dan foreign flows," jelas Rully.
Dengan sejumlah faktor tersebut, Mirae Asset memperkirakan volatilitas IHSG masih akan tinggi pada pekan ini. Pergerakan pasar saham juga dinilai masih berlangsung secara selektif di tengah tingkat suku bunga global yang relatif tinggi. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan rupiah, pergerakan yield obligasi AS, serta arus dana asing untuk melihat arah perdagangan IHSG selanjutnya.