Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK Heru Kristiyana - - Foto: Antara/ Sigid Kurniawan
Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK Heru Kristiyana - - Foto: Antara/ Sigid Kurniawan

OJK Akui Kesulitan Mencari Pimpinan Perbankan Syariah

Husen Miftahudin • 25 Februari 2021 18:58
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku kesulitan dalam mencari pimpinan perbankan syariah yang mumpuni dan berkualitas. Padahal kapasitas pimpinan merupakan ujung tombak dalam pengembangan perusahaan bank-bank syariah.
 
Oleh karena itu, Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK Heru Kristiyana berjanji akan segera menuntaskan masalah tersebut. Hal itu diperlukan agar industri perbankan syariah dapat semakin berkembang sehingga mampu mendukung perekonomian nasional.
 
"Kami ingin menyampaikan bahwa setiap kita melakukan pergantian pimpinan perbankan syariah, kami di teman-teman pengawas maupun perizinan sangat-sangat kesulitan untuk mencari orang yang me-lead pimpinan perbankan syariah kita," ucap Heru dalam Launching dan Konferensi Pers Roadmap RP2SI 2020-2025 secara virtual, Kamis, 25 Februari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Heru, mencari pemimpin perbankan syariah yang berkualitas dilakukan dengan melakukan uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test. Langkah ini diyakini dapat menyaring sumber daya manusia mumpuni yang mampu menakhodai bank-bank syariah di Indonesia.
 
"Memang tidak mudah, tapi dengan dukungan berbagai asosiasi perbankan syariah kita, saya yakin ini akan bisa dituntaskan segera," tegasnya.
 
Dia bilang, asosiasi-asosiasi perbankan syariah dapat membantu regulator mencari jajaran pimpinan berkualitas. Hal ini juga sejalan dengan upaya para asosiasi untuk mengembangkan pimpinan perbankan syariah ke depan.
 
Heru mengungkapkan pimpinan yang berkualitas di bank-bank syariah bisa mendorong pengembangan dan mencapai kinerja bisnis yang maksimal. Apalagi industri perbankan syariah saat ini dihadapi oleh berbagai macam persoalan, salah satunya belum memiliki diferensiasi model produk yang signifikan.
 
"Ini menjadi sangat penting kami sampaikan supaya nanti setiap nasabah yang akan menggunakan syariah bisa memilih produk-produk yang mereka inginkan, tentunya dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan perbankan konvensional," harap dia.
 
Selain itu, Heru juga menyoroti indeks literasi dan inklusi keuangan syariah yang masih rendah. Juga terkait belum memadainya teknologi dalam layanan dan produk digitalisasi di bank-bank syariah.

 
"Kita mencermati bahwa di masa pandemi ini para nasabah kita tidak mau untuk melakukan transaksi-transaksinya datang ke bank atau ke ATM hanya sekedar menarik dana atau melakukan transfer. Mereka menginginkan dengan mudah lewat smartphone," jelas Heru.
 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif