Ilustrasi pasar obligasi Indonesia - - Foto: MI /Panca Syurkani
Ilustrasi pasar obligasi Indonesia - - Foto: MI /Panca Syurkani

Skema Burden Sharing Perkuat Pasar Obligasi

Ekonomi Bank Indonesia obligasi Skema Burden Sharing
Annisa ayu artanti • 21 Juli 2020 12:49
Jakarta: PT Bahana TCW Investment Management menilai skema berbagi beban (burden sharing) akan memperkuat pasar obligasi. Sebab, skema tersebut mengurangi supply risk Surat Berharga Negara (SBN) terutama di pasar obligasi domestik.
 
"Investor asing kini sedang menyikapi dampak pembelian SBN oleh BI terhadap rupiah, terutama setelah BI kembali memangkas bunga," kata Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 21 Juli 2020.
 
Budi menjelaskan Bank Indonesia akan menyerap SBN yang dikeluarkan pemerintah untuk belanja publik. Belanja tersebut sebesar Rp397,56 triliun meliputi belanja kesehatan Rp87,55 triliun, perlindungan sosial Rp203,9 triliun, dan sektoral kementerian, lembaga dan pemda Rp106,11 triliun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk belanja barang non-publik, Bank Indonesia akan bertindak sebagaistand by buyermelalui penerbitan SBN dengan mekanisme pasar sesuai kesepakatan pada UU nomor 2/2020.
 
Bank Indonesia akan memperoleh bunga sebesar reverse repo rate dikurangi satu persen. Belanja non publik ini meliputi bantuan UMKM sebesar Rp123,46 triliun dan pembiayaan korporasi non-UMKM Rp53,57 triliun.
 
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah dalam sebulan terakhir bersifat temporer jika mencermati lonjakan harga emas yang berlawanan dengan pelemahan indeks dolar global. Penurunan suku bunga global LIBOR pada batas terendah dalam sejarah juga menunjukkan terjadi kelebihan likuiditas.
 
Selain faktor eksternal pelemahan dolar, potensi penguatan rupiah hingga ke level Rp13.930 per USD pada akhir tahun mungkin terjadi karena faktor internal yakni, penurunan defisit neraca berjalan yang selaras dengan perlambatan ekonomi.
 
Kemudian isyarat perlambatan ekonomi Indonesia diperlihatkan oleh surplus neraca dagang Indonesia dua bulan berturut-turut, yakni USD2,1 miliar pada Mei 2020 dan USD1,27 miliar pada Juni 2020. Bank Indonesia memproyeksikan defisit neraca berjalan (current account deficit/CAD) pada kisaran 1,5 persen GDP pada akhir 2020.
 
Budi pun meyakini investor asing akan kembali melirik SBN mengingat imbal hasil yang ditawarkan lebih tinggi dibanding negara lain.
 
"Percepatan stimulus yang memperkuat daya beli dan penurunanyieldSBN meningkatkan valuasi dan, dengan demikian, peluang kenaikan harga saham," tukas Budi.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif