Ilustrasi. FOTO: MI/USMAN ISKANDAR
Ilustrasi. FOTO: MI/USMAN ISKANDAR

Yang Punya Utang di Bank Bisa Tenang! BI Diramal Tahan Suku Bunga 5,75% Sepanjang 2023

Antara • 21 Januari 2023 11:03
Jakarta: Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen sepanjang sisa 2023. Kondisi itu dengan tetap mewaspadai perkembangan ekonomi global ke depan yang masih penuh ketidakpastian.
 
"Kami mengharapkan BI untuk menahan suku bunga acuan ke depan dengan tetap mewaspadai perkembangan kondisi ekonomi baik global maupun domestik," ujar Faisal, dilansir dari Antara, Sabtu, 21 Januari 2023.
 
Sebagian besar bank sentral utama telah mengumumkan kenaikan suku bunga pada 2023 tidak akan seagresif pada 2022 di tengah meredanya inflasi global. Ia melihat kenaikan suku bunga global akan mencapai puncaknya pada akhir semester I-2023.
 
Sedangkan Federal Reserve (Fed)  pada pertemuan Desember 2022 memproyeksikan suku bunga acuan meningkat sebesar 75 basis poin (bps) tahun ini, sementara pasar hanya mengharapkan peningkatan 25 bps dibandingkan dengan peningkatan 425 bps pada 2022.
Baca: Apa itu Piutang? Apakah Sama dengan Utang?

The Fed lebih lanjut telah memberikan sinyal untuk penurunan suku bunga mulai 2024. Sikap yang kurang hawkish ini telah mendorong aliran modal masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, khususnya pasar obligasi.
 
Meskipun aliran keluar terus-menerus terjadi di pasar saham pada Januari 2023 dibanding level akhir tahun sebelumnya (year-to-date/ytd) karena penurunan harga komoditas dan meningkatnya kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada dalam tren apresiasi yaitu menguat sekitar tiga persen (ytd) .
 
Selain itu, sektor eksternal Indonesia tetap tangguh didorong oleh neraca perdagangan 2022 yang mencatat surplus tertinggi sepanjang sejarah yakni USD54,46 miliar. Dengan demikian, ia memperkirakan, neraca transaksi berjalan 2022 akan mengalami surplus sekitar 1,05 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
 
Akan tetapi, pertumbuhan ekspor diproyeksikan menurun pada 2023 karena penurunan harga komoditas, yang didorong lesunya permintaan global di tengah pengetatan moneter global yang sedang berlangsung untuk melawan inflasi.
 
Sementara itu, pertumbuhan impor diperkirakan lebih tinggi dari pertumbuhan ekspor karena kemungkinan terdapat penguatan permintaan domestik, menyusul pencabutan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), strategi hilirisasi industri, dan keputusan untuk melanjutkan Proyek Strategis Nasional (PSN)
 
"Kami memperkirakan neraca transaksi berjalan pada 2023 akan berubah menjadi defisit yang dapat dikelola sekitar 1,1 persen dari PDB," pungkasnya.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


(ABD)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif