Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id

Kurs Rupiah Sore Melempem

Ekonomi rupiah melemah Kurs Rupiah Dolar AS
Angga Bratadharma • 09 Mei 2022 16:33
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada akhir perdagangan Senin terpantau melemah ketimbang pada pagi tadi di posisi Rp14.505 per USD. Mata uang Garuda gagal menghantam mata uang Paman Sam di tengah keputusan The Fed yang agresif menaikkan suku bunga acuan.
 
Mengutip Bloomberg, Senin, 9 Mei 2022, perdagangan sore berakhir tertekan di Rp14.572 per USD atau melemah 0,64 persen. Hari ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.501 hingga Rp14.595 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di level Rp14.530 per USD.
 
Sementara itu, dolar memulai pekan ini pada Senin pagi dengan pijakan yang kuat. Hal itu ditopang oleh imbal hasil AS yang meningkat tajam dan kecenderungan investor ke arah yang aman karena penguncian di Tiongkok, perang di Ukraina, dan kecemasan tentang tingginya suku bunga di AS.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Greenback mencapai level tertinggi 22-bulan terhadap dolar Selandia Baru yang sensitif terhadap pertumbuhan di awal perdagangan dan naik lebih dari 0,5 persen terhadap dolar Australia ke puncak tiga bulan karena pasar saham berjangka AS turun 1,0 persen.
 
Imbal hasil acuan obligasi Pemerintah AS 10-tahun berdiri di level tertinggi sejak 2018 di 3,146 persen dan pada 130,73 yen per dolar melemah dari puncak baru dua dekade.

 
Dolar mendekati level tertinggi lima tahun pada euro, yang turun 0,2 persen menjadi 1,0529 dolar. Poundsterling melayang tepat di bawah posisi terendah dua tahun yang dibuat pekan lalu setelah bank sentral Inggris (BoE) memperingatkan ekonomi Inggris menghadapi resesi.
 
"Dolar akan didukung oleh kinerja ekonomi AS yang lebih baik dan harga ekuitas yang lebih lemah. Meskipun terjadi kenaikan suku bunga yang material, kondisi keuangan tidak terlalu ketat di negara-negara ekonomi utama," kata Ahli Strategi Commonwealth Bank of Australia Joe Capurso, di Sydney.
 
"Kebutuhan memperketat kondisi keuangan dan mengendalikan inflasi mendasari kasus untuk kenaikan (suku bunga) lebih lanjut yang signifikan," pungkasnya.

 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif