"Cuaca ekstrim, krisis air bersih, kebakaran hutan, dan gangguan lingkungan lainnya yang meningkat dengan kecepatan yang mengkhawatirkan berpotensi mengganggu stabilitas moneter dan sistem keuangan," kata Destry, saat menyampaikan Opening Remark Casual Talks dengan tema 'Building a Resilient Sustainable Finance', dilansir dari Antara, Jumat, 18 Februari 2022.
Berdasarkan perhitungan beberapa ahli, lanjutnya, biaya penanganan kerusakan akibat perubahan iklim diperkirakan akan lebih tinggi dari biaya penangan krisis global 2008 dan pandemi covid-19. Selama 20 tahun terakhir biaya penanganan masalah cuaca ekstrem telah mencapai USD1,51 triliun.
Beberapa analis juga memprediksi bahwa tanpa adanya tindakan untuk mengatasi perubahan iklim, suhu bumi diperkirakan akan meningkat 3,2 derajat celcius dengan kerugian PDB global mencapai 18 persen.
"Namun jika kesepakatan Paris tercapai, suhu tambahan maksimal akan di bawah dua derajat Celcius dengan kerugian PDB Global terbatas pada empat persen," ujarnya.
Oleh karena itu, melalui Presidensi G20, Indonesia menekankan pentingnya keuangan berkelanjutan yang berperan terhadap pemulihan ekonomi global yang hijau, berkelanjutan serta inklusif.
Dari sisi strategi pembiayaan, Destry menjelaskan, Indonesia telah mengembangkan produk pembiayaan berkelanjutan, green bond dan green sukuk. Green bond telah tumbuh secara ekspansif dan diproyeksikan mencapai USD260 miliar secara akumulasi pada 2021-2023.
BI juga mendeklarasikan Bank Indonesia green financial and institutional framework, yang terdiri dari dua pilar. Yang pertama adalah aspek hijau dalam bauran kebijakan dan yang kedua kelembagaan hijau. Kedua pilar tersebut bertujuan untuk mewujudkan sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan dan tangguh.
Per Desember 2021, BI telah memberikan cadangan devisa sebanyak USD5,82 miliar dan sebanyak USD1,83 miliar diinvestasikan pada portofolio hijau. Lebih lanjut, Destry mengajak setiap negara untuk berpartisipasi aktif dalam koordinasi internasional untuk mempercepat pembatasan pemanasan global.
"Hal ini perlu dikombinasikan dengan peningkatan, novasi dan inisiatif yang dapat disesuaikan dengan kapasitas setiap negara Indonesia selalu siap mendukung pemulihan global seiring dengan semangat G20 recover together recover stronger," tutup dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News