Penjualan rokok. Foto : MI/Panca Syaukarni.
Penjualan rokok. Foto : MI/Panca Syaukarni.

Cukai Rokok Naik, Laba HMSP Tergerus 16,83%

Annisa ayu artanti • 25 Maret 2022 12:14
Jakarta: PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mencatat penurunan laba 2021 sebesar 16,83 persen menjadi Rp7,13 triliun, dibandingkan dengan perolehan laba 2020 yang sebesar Rp8,58 triliun.
Kendati demikian, dalam laporan keuangan perseroan terlihat terjadi peningkatan terhadap penjualan bersih dari Rp92,42 triliun pada 2020 menjadi Rp98,87 triliun pada 2021.
 
Namun juga terjadi peningkatan terhadap beban pokok penjualan dari Rp72,65 triliun menjadi Rp81,95 triliun. Hal itu membuat penurunan pada laba kotor dari Rp18,77 triliun menjadi Rp16,91 triliun pada 2021. Di sisi lain, juga terjadi peningkatan pada beban umum dan administrasi dari Rp2,11 triliun menjadi Rp2,13 triliun dan biaya keuangan dari Rp49,98 triliun menjadi Rp56,52 triliun.
 
Hingga 31 Desember 2022 posisi aset HMSP tercatat sebesar Rp53 triliun. Aset tersebut meningkat dibandingkan akhir 2020 yang sebesar Rp49,67 triliun. Adapun, jumlah ekuitas turun dari Rp30,24 triliun menjadi Rp29,19 triliun. Sedangkan liabilitas naik dari Rp19,43 triliun pada 2020 menjadi Rp23,89 triliun pada akhir 2021. Kenaikan liabilitas disumbang dari pos cukai, yakni mengalami kenaikan 55,38 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp14,83 triliun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sekretaris HMSP Bambang Priambodo pun membenarkan terkait peningkatan jumlah liabilitas tersebut. Bambang menjelaskan, merujuk kepada laporan keuangan kenaikan jumlah liabilitas Perusahaan per 31 Desember 2021 sebesar 22,9 persen atau kurang lebih Rp4,5 triliun dibandingkan dengan jumlah liabilitas pada 31 Desember 2020, yang terutama berasal dari penambahan utang cukai sebesar Rp5,2 triliun dan disertai dengan penurunan utang pajak badan sebesar 0,5 triliun.
 
"Penambahan utang cukai ini disebabkan adanya peraturan Menteri Keuangan Nomor 57/PMK.04/2017 terkait restorasi fasilitas penundaan pembayaran pita cukai pada akhir tahun dan kenaikan pembelian pita cukai di Desember 2021 dibandingkan Desember 2020," jelasnya dalam keterangan tertulis, Jumat, 25 Maret 2022.
 
Adapun, penurunan utang pajak badan disebabkan oleh Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 mengenai Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Aturan tersebut menetapkan tarif pajak penghasilan dalam negeri turun menjadi 22 persen.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif