Ilustrasi - - Foto: Grafis Medcom
Ilustrasi - - Foto: Grafis Medcom

BI: Pandemi Mengubah Kebiasaan Masyarakat dalam Bertransaksi

Ekonomi Bank Indonesia transaksi non tunai pandemi covid-19
Husen Miftahudin • 21 Oktober 2020 16:20
Jakarta: Meluasnya dampak pandemi covid-19 mengubah kebiasaan transaksi masyarakat, dari konvensional menjadi digital. Hal ini didorong oleh pembatasan aktivitas dan sosial demi mencegah meningkatnya kasus infeksi covid-19.

"Kalau kita lihat (kebiasaan bertransaksi) masyarakat itu berubah. Elektronifikasi memang kita sudah jalankan beberapa tahun lalu, berjalan, tapi tidak secepat kondisi sekarang. Jadi memang covid-19 terbukti men-speed up proses shifting behaviour masyarakat," kata Principal Economist Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Agung Purwoko dalam webinar di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2020.
 
Menurut Agung, adopsi digital di Indonesia meningkat pesat dan terus mendongkrak aktivitas transaksi digital. Tak hanya transaksi belanja daring (e-commerce), transaksi digital banking dan uang elektronik pun meningkat drastis.
 
Berdasarkan data Bank Indonesia, sebutnya, total transaksi belanja daring hingga Agustus 2020 mencapai 140 juta. Jumlah ini meningkat drastis bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 80 juta transaksi, dan di Agustus 2018 yang hanya 40 juta transaksi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Putaran transaksi di e-commerce itu pertumbuhannya sangat akseleratif. Jadi memang adaptasi masyarakat untuk berbelanja di e-commerce terus berlangsung, jenis barang-barangnya juga terus berkembang. Ini merupakan solusi atas hambatan orang yang tidak bisa melakukan transaksi (secara langsung di masa pandemi)," paparnya.
 
Kemudian digital banking, baik SMS/mobile banking maupun internet banking transaksinya juga meningkat pesat. Bank Indonesia mengklasifikasi transaksi digital banking ini menjadi dua, yakni internet banking yang biasa digunakan oleh segmen korporasi dan SMS/mobile bankingyang kerap digunakan segmen ritel konsumen.
 
"Kalau dilihat, dari dua segmen itu yang meningkat (di masa pandemi) adalah segmen-segmen untuk masyarakat, yakni SMS/mobile banking. Sementara internet banking cenderung lebih stagnan seiring dengan transaksi korporasi yang masih terbatas," ungkap Agung.
 
Demikian halnya dengan uang elektronik, meskipun pertumbuhannya tidak sekencang transaksi belanja daring dan digital banking. Per Agustus 2020, rata-rata harian transaksi uang elektronik mencapai Rp550 miliar. Jumlah itu meningkat drastis ketimbang periode sama 2019 sebesar Rp400 miliar per hari.
 
Agung mengakui transaksi menggunakan uang elektronik ini sempat stagnan dan cenderung turun, terutama saat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pasalnya, uang elektronik ini banyak digunakan untuk transaksi transportasi dan outlet-outlet yang pada saat pembatasan tersebut operasionalnya terbatas, bahkan tutup.
 
"Memang sempat turun dan sekarang agak naik kembali. Sejak bulan kelima (Mei 2020), transaksi menggunakan uang elektronik ini trennya sudah mulai naik kembali," tutup Agung.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif