Jakarta: Bibit dan Stockbit berkolaborasi dengan seniman asal Yogyakarya, Endry Pragusta, melalui karya School of Medusa II, yang dikemas dalam narasi “Lost at Sea”. Art Jakarta 2026 sendiri mempertemukan galeri, seniman, kolektor, institusi, serta komunitas seni dari Indonesia dan berbagai negara di Asia.
“Lost at Sea” berangkat dari sebuah gagasan sederhana, yakni laut tidak pernah berhenti bergerak dan berubah. Laut tidak pernah benar-benar diam. Di balik badai dan arus yang tidak menentu, gelombang terus bergerak secara perlahan dan konsisten, menguji segala sesuatu yang dibangun di atasnya.
Lewat karya ini, Endry Pragusta menghadirkan gambaran tentang sebuah sistem pendidikan yang berada dalam kondisi hanyut meninggalkan manusia untuk menavigasi masa depan yang penuh ketidakpastian dengan perangkat yang belum tentu lengkap. Metafora tersebut kemudian diperluas ke dalam perjalanan finansial manusia yang juga tidak selalu memiliki peta yang sempurna.
Sejak awal, masyarakat mungkin lebih banyak diajarkan bagaimana memperoleh penghasilan dibandingkan bagaimana melindungi, mengembangkan, dan mengelola apa yang telah dibangun untuk menghadapi masa depan. Dalam kondisi dunia yang terus berubah, perjalanan finansial pun membutuhkan kemampuan untuk membaca situasi, menentukan arah, dan tetap menjaga keseimbangan ketika arus berubah.
Melalui narasi “Lost at Sea”, Bibit dan Stockbit ingin mengajak masyarakat melihat investasi bukan sebagai upaya untuk menebak setiap gelombang yang akan datang, melainkan sebagai proses belajar untuk memahami kondisi, menentukan arah, dan terus bergerak menghadapi perubahan.William, Head of PR & Corporate Communication perusahaan, menyampaikan bahwa metafora laut dalam karya Endry Pragusta memiliki relevansi yang kuat dengan perjalanan investor.
“Layaknya berlayar, dalam investasi kita sulit untuk mengendalikan laut maupun memprediksi setiap gelombang. Yang dapat kita lakukan adalah belajar membaca arus, memahami kondisi, menentukan arah, dan menjaga keseimbangan.Rakit dapat bertahan bukan karena ia kaku dan tidak berubah, tetapi karena mampu beradaptasi, mengikat kembali bagian-bagiannya, dan mencari keseimbangan ketika gelombang datang. Begitu pula dengan investasi,ketika arus berubah kita tetap harus mendayung,” ujar William dalam keteranganya.
Melalui kolaborasi dengan Endry Pragusta dan kehadirannya di Art Jakarta 2026, Bibit dan Stockbit juga ingin memperluas percakapan mengenai investasi melampaui angka dan instrumen keuangan. Investasi merupakan perjalanan yang membutuhkan pengetahuan, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, dan konsistensi dalam menghadapi perubahan. Hal ini tak ubahnya keadaan yang dialami dan dihadapi para seniman yang menghasilkan karya-karya menakjubkan di Art Jakarta edisi ini.
“Bibit dan Stockbit juga ingin menghadirkan pengalaman yang interaktif dan personal. Karena itu, pengunjung dapat berpartisipasi dalam aktivitas menulis dan origami untuk mengekspresikan serta memvisualisasikan harapan dan aspirasi mereka bersama-sama,” tutup William.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan