Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id

4 Tips Perencanaan Keuangan bagi Pemilik Mobil

Ekonomi Virus Korona tips keuangan tips berinvestasi
Angga Bratadharma • 10 Oktober 2020 13:03
Jakarta: Meski nilainya terus mengalami depresiasi dari tahun ke tahun, mobil merupakan sebuah aset dan kepemilikan sebuah mobil tentu menuntut seseorang untuk memiliki perencanaan keuangan yang baik. Adapun keberadaan mobil sebagai aset tentu menambah nilai kekayaan bersih seseorang.
 
Namun sebagai sebuah aset, mobil bisa dikategorikan sebagai aset pribadi maupun investasi. Ketika mobil hanya digunakan untuk keperluan mobilitas sehari-hari, maka statusnya menjadi aset pribadi. Tetapi ketika mobil digunakan untuk mencari uang seperti mengantar penumpang, mengangkut barang dagangan, dan semacamnya maka mobil menjadi aset investasi.
 
Mengutip Lifepal, Sabtu, 10 Oktober 2020, berikut tips perencanaan keuangan untuk para pemilik mobil. Pertama, mobil butuh dana darurat. Idealnya, seorang harus menyediakan dana darurat setara minimal 3-6 kali pengeluaran bulanan. Mengapa? Karena dana darurat akan berguna untuk menalangi biaya hidup di saat orang yang bersangkutan kehilangan penghasilan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lantas seperti apa bentuk dana darurat untuk mobil? Semakin tua usia mobil maka semakin sering pula pergantian suku cadangnya. Pergantian suku cadang saat servis berkala jelas memunculkan biaya tak terduga yang harus dibayarkan.
 
Sebut saja aki mobil yang habis masa pakainya, kampas kopling, rem, busi, oli, dan filter-filter yang harus diganti dalam hitungan kilometer. Belum lagi, pemilik mobil rentan terkena risiko ban kempes di tengah perjalanan, baik karena tekanan anginnya yang kurang atau karena musibah lain.
 
Oleh karena itu, cukup penting tentunya mengalokasikan dana demi kebutuhan ini. Tidak salah untuk menabung setidaknya 1-5 persen dari pemasukan per bulan untuk dana darurat mobil. Simpan dana tersebut di tabungan agar tetap likuid.
 
Kedua, total aset lancar harus 15-20 persen dari kekayaan bersih. Seperti dijelaskan di atas bahwa keberadaan mobil yang merupakan aset akan menambah nilai kekayaan bersih. Nilai kekayaan bersih sendiri didapat dari hasil pengurangan antara total aset dan total utang.
 
Semakin tinggi kekayaan bersih maka makin tinggi pula persentase aset lancar (tabungan, kas, dan setara kas) yang harus dimiliki. Wajar saja, mobil tentunya butuh biaya operasional seperti biaya bahan bakar, biaya kebersihan, biaya jasa servis ringan, servis berat dan pajak. Itu sebabnya, seseorang yang memiliki mobil harus memiliki kas yang cukup.
 
Kas yang cukup tentu bukan hanya keperluan yang sifatnya darurat melainkan juga untuk operasional. Total aset lancar ideal harus Anda miliki adalah 15-20 persen dari kekayaan bersih. Jika kurang dari 15 persen itu tandanya jumlahnya terlalu kecil, namun jika lebih dari 20 persen terlalu banyak menyimpan uang di tabungan dan kurang berinvestasi untuk masa depan.
 
Ketiga, mobil juga harus dilindungi. Satu-satunya yang bisa melindungi seseorang dari risiko finansial atas rusak atau hilangnya mobil adalah asuransi mobil. Secara garis besar, asuransi mobil terdiri dari all risk dan Total Loss Only (TLO). All risk akan menanggung apapun risiko yang terjadi, termasuk lecet di bagian bodi asal sesuai dengan aturan yang berlaku.
 
Sedangkan TLO menanggung biaya pertanggungan ketika mobil hilang, atau mengalami kerusakan total hingga mencapai 70 persen dari harga mobil. TLO cenderung lebih murah daripada all risk. Namun pemilihannya harus disesuaikan dengan potensi risiko yang bakal dialami si pemilik mobil.
 
Keempat, kalau mobil masih dicicil, pastikan cicilannya sesuai dengan pemasukan. Bagi yang tengah mencicil mobil, mungkin tidak mengetahui apakah besaran cicilan mobil per bulan terlalu besar atau tidak. Cara mengukurnya tentu saja dengan mengetahui Debt Service Ratio (DSR) kita.
 
DSR menunjukkan total cicilan utang yang kita miliki berbanding pemasukan bulanan, tidak hanya cicilan mobil, melainkan juga cicilan kartu kredit, dan kredit lainnya bila ada. Untuk menghitung nilai DSR, seseorang bisa melakukan perbandingan dari jumlah total cicilan dengan pemasukan bulanan.
 
Bila besaran cicilan mobil dan utang-utang lainnya masih di bawah 35 persen dari penghasilan, maka jumlah cicilan itu masih wajar. Tapi jika berlebih, tandanya sudah terlalu besar. Itu artinya harus mengatur ulang pembayaran utang, bisa dengan melakukan perpanjangan tenor pinjaman atau dengan melunasi utang-utang lain di luar kredit mobil yang berbunga besar.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif