Ratusan mitra pengemudi taksi daring (online) harap-harap cemas dengan kebijakan baru PT Baruna yang tetap menagih setoran harian di tengah merebaknya pandemi virus korona (covid-19). Foto ilustrasi: MI/Rramdani
Ratusan mitra pengemudi taksi daring (online) harap-harap cemas dengan kebijakan baru PT Baruna yang tetap menagih setoran harian di tengah merebaknya pandemi virus korona (covid-19). Foto ilustrasi: MI/Rramdani

Ratusan Kendaraan Mitra Driver Online Terancam Ditarik

Ekonomi ojk taksi online Kredit Kendaraan
Husen Miftahudin • 06 April 2020 13:15
Jakarta: Ratusan mitra pengemudi taksi daring (online) harap-harap cemas dengan kebijakan baru PT Baruna yang tetap menagih setoran harian di tengah merebaknya pandemi virus korona (covid-19). Padahal, perusahaan tersebut juga dianggap lalai dalam memenuhi kewajiban menyediakan akun taksi online bandara.
 
PT Baruna diketahui merupakan sebuah perusahaan jasa rental mobil yang bekerja sama dengan aplikasi penyedia transportasi online, PT Aplikasi Karya Anak Bangsa Tbk atau Gojek. Dalam iklannya, perusahaan ini merekrut 200 mitra pengemudi online Gocar dengan unit kendaraan disediakan oleh PT Baruna.
 
Kendaraan yang disediakan pun akan menjadi hak milik mitra pengemudi dalam jangka waktu lima tahun. Dalam hal ini para mitra pengemudi diminta untuk menyetor sebanyak Rp245 ribu hingga Rp260 ribu per hari, tergantung tipe kendaraan yang dipilih. Setoran tersebut berlaku selama 28 hari dalam satu bulan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Salah satu mitra pengemudi PT Baruna, SA, mengaku kecewa dengan iming-iming akun taksi online bandara. Padahal janji itu membuat dirinya tertarik untuk ikut bermitra. Nyatanya, iming-iming PT Baruna itu merupakan janji palsu yang tak kunjung terealisasi hingga saat ini.
 
"Sampai saat ini akun Goban (Gocar Bandara) ini belum jadi juga, tapi kita tetap diminta setor sesuai dengan perjanjian di awal. Kan kalau di bandara enak, cukup mudah dan masuk akal dapat setoran segitu karena setiap penumpang biasanya (menghabiskan biaya jasa taksi online) di atas Rp200 ribu," ungkap SA menceritakan kisahnya kepada Medcom.id, Jakarta, Senin, 6 April 2020.
 
Kondisi tersebut membuat SA terpaksa menjadi pengemudi taksi online konvensional, mencari penumpang di luar kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dengan keadaan seperti itu, sulit bagi SA untuk mengumpulkan setoran harian yang diminta PT Baruna.
 
Sebulan berlalu, ratusan mitra driver menuntut akun Goban yang dijanjikan. Sayangnya, akun tersebut masih belum terealisasi. Akhirnya pihak perusahaan dan para mitra sepakat untuk menyetor separuh dari setoran harian normal sembari mengupayakan akun taksi online bandara itu selesai diurus.
 
Kondisi itu diakui SA dan mitra lainnya masih berat di tengah persaingan pengemudi taksi online lainnya. Mereka mengaku terpaksa, dan akhirnya banyak dari mitra pengemudi yang tak sanggup bayar dan menyetor seadanya.
 
Pihak PT Baruna memaklumi, namun setoran di bawah separuh setoran normal dihitung sebagai kurang setoran. Kekurangan setoran ini diminta untuk dilunasi bila akun Goban terealisasi.
 
"Sudah setor separuh, akun belum jadi-jadi juga selama dua bulan sesuai yang mereka janjikan. Ditambah masuk di bulan ketiga ini ada virus korona, kita para mitra driver makin kelimpungan dan susah bayar setoran," ungkapnya.
 
Menurut SA, PT Baruna menutup mata terhadap apa yang terjadi di lapangan. Namun kesulitan mencari penumpang di tengah pandemi covid-19 ini akhirnya membuat perusahaan melunak, dengan sejumlah syarat yang ditentukan PT Baruna.
 
Selanjutnya, PT Baruna menetapkan setoran harian selama pandemi covid-19 menjadi Rp60 ribu per hari dan berlaku untuk semua jenis kendaraan yang diambil para mitra pengemudi. Namun kebijakan ini berlaku bila para mitra terlebih dahulu membayar 30 persen hingga 50 persen dari kekurangan setoran sebelumnya.
 
"Saya sebulan awal kan bayar Rp260 ribu per hari, terus dua bulan kemudian setengahnya, Rp130 ribu per hari. Tapi kan selama dua bulan terakhir itu saya enggak mampu bayar setoran harian. Itu yang jadi KS atau kekurangan setoran. Nah, kalau mau ambil yang Rp60 ribu per hari, ini katanya harus membayar KS. Pada enggak mau lah," ketusnya.
 
Kondisi itu membuat perusahaan memberi opsi lain kepada mitra dengan menitip unit kendaraan di pool. Kebijakan ini berlaku hingga masa sulit pandemi covid-19 berakhir, dan para mitra pengemudi bisa mengambil unitnya kembali.
 
Berdasarkan cerita rekan SA, kebijakan itu merupakan dalih perusahaan untuk menutup kontrak tanpa mengembalikan sepeser uang yang telah disetor mitra pengemudi, termasuk biaya Rp2,5 juta yang disetor di awal. Dalam iklannya yang tersebar di beberapa media sosial, biaya awal Rp2,5 juta merupakan deposit yang akan dikembalikan perusahaan setelah lima tahun masa kontrak.
 
Dengan kondisi itu, SA bersama ratusan rekannya menuntut kepada PT Baruna untuk memenuhi kewajiban perusahaan menyediakan akun Goban. Bila mitra pengemudi mengundurkan diri dalam program ini, mereka meminta biaya awal Rp2,5 juta dan seluruh setoran yang diberikan kepada perusahaan dikembalikan seutuhnya.
 
"Karena sewaktu tanda tangan kontrak statusnya kepemilikan, enggak ada tutup kontrak. Kami juga meminta kepada pemerintah untuk membereskan perusahaan yang menawarkan janji-janji manis seperti ini. Mereka semena-mena dan suka-suka. Tolong pemerintah dengerin," pungkas SA.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif