Ilustrasi. FOTO: MI/ATET DWI PRAMADIA
Ilustrasi. FOTO: MI/ATET DWI PRAMADIA

Keren! Pekan Ini Kurs Rupiah Gagah di Zona Hijau Meski Digoyang Tapering

Angga Bratadharma • 18 September 2021 10:35
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan di sepanjang pekan ini terpantau konsisten di zona hijau seiring Federal Reserve yang kian bersiap melakukan pengetatan kebijakan atau menjalankan tapering. Sedangkan Pemerintah Indonesia terus melakukan antisipasi agar dampak tapering tak terlalu besar bagi ekonomi.
 
Mengutip data Jisdor Bank Indonesia, Sabtu, 18 September 2021, nilai tukar rupiah di awal pekan atau Senin, 13 September berada di level Rp14.260 per USD. Lalu pada Selasa, 14 September, mata uang Garuda menguat ke posisi Rp14.257 per USD. Kemudian pada Rabu, 15 September, nilai tukar rupiah melonjak ke Rp14.252 per USD.
 
Sedangkan pada Kamis, 16 September, mata uang Garuda kembali menguat ke level Rp14.238 per USD. Lalu di akhir pekan atau tepatnya Jumat, 17 September, mata uang Garuda melonjak lagi ke posisi Rp14.233 per USD. Sejauh ini para investor terus memantau The Fed untuk mengetatkan kebijakan seiring pemulihan ekonomi yang terus terjadi.
Sementara itu, kurs USD mencapai tertinggi tiga minggu terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu WIB). Kondisi itu setelah data penjualan ritel AS yang lebih baik dari perkiraan mendukung ekspektasi pengurangan pembelian aset atau tapering oleh Federal Reserve sebelum akhir tahun.
 
Indeks dolar, ukuran nilai greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik menjadi 93,220, tertinggi sejak minggu ketiga Agustus. Indeks terakhir menguat 0,4 persen pada 93,207. Untuk minggu ini, indeks dolar naik 0,6 persen, persentase kenaikan mingguan terbesar sejak pertengahan Agustus.
 
The Fed mengadakan pertemuan kebijakan moneter dua hari minggu depan dan diperkirakan akan membuka diskusi tentang pengurangan pembelian obligasi bulanan, sambil mengaitkan setiap perubahan aktual dengan pertumbuhan pekerjaan AS pada September dan seterusnya.
 
"Sementara kami ragu bahwa FOMC akan menetapkan rencana untuk mengurangi pembelian asetnya, proyeksi ekonomi baru dapat menjelaskan fungsi reaksinya mengingat tekanan inflasi siklikal," tulis Ekonom Pasar Capital Economics Jonathan Petersen, dalam laporan penelitian terbarunya.
 
"Pandangan kami tetap bahwa inflasi di AS akan tetap tinggi lebih lama dari yang diperkirakan FOMC dan investor saat ini, pada gilirannya mendukung imbal hasil AS yang lebih tinggi dan dolar yang lebih kuat," tambahnya.
 
Spekulasi tentang tapering Fed tahun ini meningkat setelah penjualan ritel AS secara tak terduga meningkat pada Agustus, data menunjukkan pada Kamis,  16 September, naik 0,7 persen dari bulan sebelumnya meskipun ekspektasi untuk penurunan 0,8 persen. Survei sentimen bisnis juga menunjukkan peningkatan besar.
 
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id

(ABD)



LEAVE A COMMENT
LOADING
social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif