Literasi keuangan. Foto: Medcom.id.
Literasi keuangan. Foto: Medcom.id.

Upaya Mendorong Ekosistem Literasi Keuangan dari Ruang Keluarga hingga Bangku Sekolah

Arif Wicaksono • 12 Februari 2026 06:34
Ringkasnya gini..
  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat indeks literasi keuangan pelajar dan mahasiswa masih berada di level 56,42%.
  • Di sisi lain, generasi muda semakin akrab dengan dompet digital dan berbagai produk keuangan berbasis teknologi sebuah kombinasi yang berisiko jika tidak diimbangi pemahaman yang memadai.
Jakarta: Literasi keuangan tidak lagi cukup diajarkan sebagai mata pelajaran tunggal di ruang kelas. 
 
Ia membutuhkan lingkungan yang hidup, konsisten, dan terhubung mulai dari keluarga, sekolah, hingga industri jasa keuangan. Inilah pendekatan yang diusung PT FWD Insurance Indonesia bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) melalui program JA SparktheDream yang memasuki tahun keempat pelaksanaannya.
 
JA SparktheDream menargetkan lebih dari 2.300 siswa sekolah menengah pertama di berbagai kota besar, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang Raya, Bekasi, Bandung, Cimahi, Semarang, Surabaya, Sidoarjo, hingga Denpasar. Program ini akan berlangsung hingga November 2026 dengan fokus utama membangun ekosistem literasi keuangan yang berkelanjutan.

Berbeda dari pendekatan konvensional, JA SparktheDream dirancang sebagai proses pembelajaran holistik. Edukasi keuangan diberikan melalui empat sesi kelas interaktif yang melibatkan fasilitator PJI, guru sekolah, serta sukarelawan dari FWD Insurance. Metode pembelajaran memadukan diskusi di kelas, platform pembelajaran daring, dan yang tak kalah penting yakni aktivitas keuangan di rumah bersama keluarga.
 
Melalui aktivitas rumah, siswa diajak mempraktikkan langsung konsep pengelolaan keuangan, mulai dari diskusi sederhana dengan orang tua, pencatatan pengeluaran harian, hingga pengambilan keputusan finansial sehari-hari. Pendekatan ini menempatkan keluarga sebagai bagian inti dari ekosistem literasi keuangan, sehingga pembelajaran tidak berhenti sebagai teori, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan.
 
Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, Rudy F. Manik, menilai pendekatan berbasis ekosistem menjadi semakin relevan di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan.
 
“Anak-anak saat ini tumbuh dengan akses yang sangat mudah terhadap berbagai layanan keuangan digital, lengkap dengan peluang dan risikonya. Setelah menjangkau hampir 6.000 siswa sejak 2023, kami ingin memastikan pembelajaran ini tidak hanya relevan, tetapi juga melibatkan orang tua dan sekolah sebagai satu kesatuan. Literasi keuangan yang dipraktikkan sejak dini akan menjadi fondasi penting bagi keputusan finansial yang lebih bijak di masa depan,” ujarnya.
 
Urgensi penguatan ekosistem literasi keuangan juga tercermin dari data nasional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat indeks literasi keuangan pelajar dan mahasiswa masih berada di level 56,42%. Di sisi lain, generasi muda semakin akrab dengan dompet digital dan berbagai produk keuangan berbasis teknologi sebuah kombinasi yang berisiko jika tidak diimbangi pemahaman yang memadai.
 
Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, menambahkan bahwa peran guru menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan program.
 
“Program ini tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga membekali guru dengan metodologi dan materi pembelajaran yang dapat dikembangkan lebih lanjut di sekolah. Kehadiran sukarelawan FWD Insurance turut memberikan perspektif nyata dari dunia kerja dan industri keuangan, sehingga proses belajar menjadi lebih kontekstual,” jelasnya.
 
Pelaksanaan tahun keempat program ini diawali dengan seminar literasi keuangan bertajuk “Kelola Uang Hari Ini, Aman Esok Hari” yang digelar di SMP Al-Jannah, Depok. Seminar ini dirancang untuk memperkuat peran orang tua sebagai pendamping utama anak dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.
 
Dalam kesempatan tersebut, perencana keuangan Dewi R.D. Amelia, CFP, menekankan bahwa keamanan finansial tidak ditentukan oleh besarnya penghasilan, melainkan oleh kebiasaan dan keputusan yang diambil setiap hari.
 
“Pengelolaan keuangan dimulai dari hal-hal sederhana: memahami ke mana uang digunakan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyiapkan perlindungan. Keputusan kecil hari ini akan menentukan rasa aman di masa depan. Karena itu, literasi keuangan harus praktis dan relevan dengan kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
 
Dengan menempatkan keluarga dan sekolah sebagai bagian dari satu ekosistem literasi keuangan yang saling terhubung, JA SparktheDream menjadi wujud komitmen jangka panjang FWD Insurance dan PJI dalam memperkuat fondasi finansial generasi muda Indonesia menuju masa depan yang lebih sehat, sadar risiko, dan berdaya secara ekonomi
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan