Ilustrasi. FOTO: MI/Andri Widiyanto
Ilustrasi. FOTO: MI/Andri Widiyanto

Capek Kena Pom-Pom Saham? Simak 3 Cara Ngelesnya: yang Terakhir Paling Sering Bikin Greget!

Angga Bratadharma • 30 September 2022 10:57
Jakarta: Di dunia pasar modal istilah pom-pom saham pasti sudah sering terdengar. Bahkan, istilah itu semakin jadi pusat perhatian ketika para public figure sempat meramaikannya dengan mempromosikan saham yang menjadi jagoannya tapi sayangnya belum tentu benar-benar bermutu.
 
Mengutip laman resmi Ajaib Sekuritas, Jumat, 30 September 2022, pom-pom saham adalah fenomena ketika harga saham didorong agar naik dengan pesat dalam waktu singkat melalui kabar dan rumor yang menyesatkan. Hal itu dengan tujuan agar pelaku pom-pom dapat menjual sahamnya di harga jauh lebih tinggi di pasar saham.
 
Adapun pom-pom berasal dari kata berbahasa Inggris yakni pump yang bermakna memompa. Di dunia Barat, juga dikenal dengan istilah pump and dump atau pompa dan buang. Contohnya influencer saham A memborong saham ABCD dengan harga Rp150 per lembar di pasar modal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia kemudian mulai merekomendasikan saham ABCD kepada follower-nya melalui media sosial, messenger, e-mail, atau medium lain. Promosi itu dikemas dengan menarik atau disampaikan secara berulang-ulang hingga para follower-nya semakin tertarik untuk membeli.
 
Karena harga saham tergolong murah, peningkatan minat beli akan mudah mengangkat harganya naik lebih tinggi dalam waktu singkat. Sang influencer A kemudian mulai melepas saham ABCD yang dimilikinya secara bertahap.
Baca: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Paling Tinggi di G20, Bangga Aku Tuh..

Ia keluar dari pasar dengan cuan melimpah berkat skema pump yang sukses, sedangkan para follower-nya akan berakhir dengan tumpukan saham nyangkut dalam portofolio.
 
Saham pom-pom biasanya berasal dari lapis kedua atau lapis ketiga bukan blue chip. Fundamental saham pom-pom bisa jadi bagus, bisa jadi jelek. Yang jelas pom-pom akan mendorong harga saham meroket sampai melebihi nilai wajarnya, sehingga follower yang mengikut gelombang beli saham paling akhir akan mendapatkan saham dengan harga terlalu mahal.
 
Setelah stok saham sang influencer habis dan ia berhenti mempromosikannya, harga saham akan turun lagi ke tingkat harga wajarnya atau malah lebih rendah lagi.
 
Bagi investor yang lebih berpengalaman mungkin sudah lebih lihai menghindari saham pom-pom karena sudah lama makan asam-garam di dunia investasi. Tapi bagaimana dengan pemula? Sebagai panduan awal, berikut tiga tips menghindari pom-pom saham:

1. Waspadalah ketika mengendus banjir informasi tentang potensi kenaikan saham tertentu

Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang pasti untung tanpa risiko. Segera selidiki fakta-fakta tentang saham tersebut secara mendalam.

2. Periksa umur dan latar belakang perusahaan sebelum membeli saham mana pun

Pelaku pom-pom biasanya menggoreng saham perusahaan-perusahaan yang belum lama melantai di bursa, memiliki harga yang sudah lama sideways, atau menyediakan produk yang tidak banyak dikenal publik. Kadang-kadang ada baiknya juga menyelidiki komposisi pemegang saham dan jajaran manajemen perusahaan.

3. Bersikap skeptis terhadap rumor yang belum jelas kepastiannya

Isu merger, akuisisi, dan aksi korporasi lain sering muncul hanya sebagai sarana untuk pom-pom saja, tetapi tanpa follow-up nyata. Sebaiknya jangan menganggap suatu rumor saham sebagai fakta, sebelum ada rilis keterbukaan informasi dari pihak otoritas bursa yakni BEI atau pernyataan pihak berwenang tentang aksi korporasi terkait.
 
Tips investasi dan rekomendasi saham memang sangat memudahkan. Tapi penting untuk mengingat bahwa di luar sana banyak manipulator yang siap ambil keuntungan dari kelengahan investor dengan segala cara, termasuk pom-pom saham. Jadi, pastikan untuk selalu menganalisis ulang rekomendasi saham apapun yang diterima.

 
(ABD)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif