Ilustrasi penggunaan QR Code Indonesian Standard (QRIS) - - Foto: dok MI
Ilustrasi penggunaan QR Code Indonesian Standard (QRIS) - - Foto: dok MI

Selama Pandemi, Transaksi Melalui QRIS Capai Rp790 Miliar

Ekonomi Bank Indonesia UMKM QR Code pandemi covid-19
Husen Miftahudin • 08 Oktober 2020 13:03
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyatakan transaksi pembayaran nontunai menggunakan fasilitas pembayaran digital melalui aplikasi uang elektronik berbasis server, dompet elektronik, maupun mobile banking atau QR Code Indonesian Standard (QRIS) mengalami lonjakan selama masa pandemi covid-19.
 
Deputi Gubernur Bank Indonesia Doni Primanto Joewono mengatakan jumlah merchant yang telah mengadopsi QRIS hingga 25 September 2020 mencapai 4,8 juta. Dari jumlah merchant tersebut terdapat 11 juta transaksi dengan nominal lebih dari Rp790 miliar.
 
"Hal ini didorong (pembebasan) biaya transaksi pemrosesan QRIS. Sampai dengan 31 Desember ini masih kita bebaskan," ujar Doni dalam rangkaian Karya Kreatif Indonesia (KKI) Seri 2 secara virtual, Kamis, 8 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kebijakan pembebasan biaya transaksi QRIS ditujukan bagi Usaha Mikro (UMi) untuk mendukung program pemulihan ekonomi nasional dan pengembangan UMKM. Dalam hal ini biayamerchant discount rate(MDR) untuk pelaku UMi menjadi sebesar nol persen hingga 31 Desember 2020.
 
Adapun sebelumnya, kebijakan pembebasan biaya transaksi QRIS hanya sampai 30 September 2020. Sebelum dibebaskan, biaya MDR QRIS baik on us atau off us dipatok 0,7 persen kepadamerchant. Biaya MDR bisa lebih murah jika transaksi berkaitan dengan pendidikan, yakni sebesar 0,6 persen. Pengisian SPBU pun dipatok 0,4 persen.
 
Menurut Doni, upaya ini sekaligus sebagai langkah bank sentral dalam mendorong digitalisasi melalui penyediaan instrumen sistem pembayaran. Dengan QRIS, sistem pembayaran menjadi lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal.
 
Di sisi lain, ucap Doni, pengembangan model bisnis yang berkenaan dengan digitalisasi harus disertai dengan penyediaan akses modal yang memadai bagi UMKM. Hingga kini penyaluran kredit yang diakses UMKM baru berkisar antara 19 persen sampai 20 persen dari total kredit perbankan sebanyak Rp5.522 triliun pada Agustus 2020.
 
"Modal yang cukup bagi UMKM dapat digunakan menjadi sarana dan prasarana yang terkait dengan teknologi digital yang akhirnya mendorong positif pada peningkatan produktivitas UMKM," tegas dia.
 
Oleh karena itu, pemanfaatan inovasi permodalan UMKM untuk pengembangan digitalisasi keuangan ini perlu diseimbangkan dengan aspek perlindungan konsumen seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin berkembang.
 
"Untuk berbagai masalah dan tantangan yang timbul karena berkembangnya permodalan digital, maka diperlukan pula pengaturan yang komprehensif, peningkatan literasi, dan penyediaan penanganan pengaduan yang efektif," pungkas Doni.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif