Jakarta: Konsumen Indonesia semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian kondisi pasar kerja. Survei Populix mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (Consumer Confidence Index/CCI) 2026 turun 6,17 poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan keyakinan tersebut turut memengaruhi perilaku belanja, terutama pada kelompok Gen Z dan Milenial. Kedua kelompok tersebut kini cenderung lebih selektif dalam menentukan kebutuhan yang harus dipenuhi dan pengeluaran yang masih dapat ditunda.
Baca Juga :
Studi: Konsumen Indonesia Makin Cerdas Belanja Online, Gen Z Paling Jago Cari Value For Money
Senior Research Director Populix Indah Tanip mengatakan pelemahan persepsi terhadap kondisi ekonomi secara umum tidak serta-merta diikuti penurunan kemampuan responden dalam mengelola keuangan pribadi.
Menurut dia, kondisi tersebut justru membuat konsumen semakin berhati-hati. Masyarakat memilih mengurangi pembelian yang bersifat spontan dan mengutamakan pengeluaran yang dinilai penting.
"Tekanan biaya hidup dan ketidakpastian lapangan kerja membuat masyarakat makin selektif memilah belanjaan. Kebutuhan sehari-hari diprioritaskan, sementara pengeluaran lain ditunda dulu sambil melihat situasi," kata Indah dikutip dari Metrotvnews.
Kehati-hatian konsumen juga terlihat lebih kuat pada responden perempuan dan kelompok ekonomi kelas atas. Kedua segmen tersebut tercatat lebih memperhatikan kestabilan pengeluaran rumah tangga serta kepastian sumber pendapatan.
Konsumen Tetap Menyiapkan Dana untuk Belanja Besar
Di tengah sikap menahan pengeluaran saat ini, konsumen ternyata masih memiliki pandangan yang cukup positif terhadap kondisi keuangan dalam beberapa bulan mendatang.
Survei Populix menunjukkan 53 persen responden memperkirakan kondisi tabungan mereka akan membaik dalam enam bulan ke depan. Optimisme tersebut antara lain ditopang oleh harapan terhadap stabilnya harga kebutuhan pokok dan munculnya sumber pendapatan baru.
Indah mengatakan sikap hati-hati konsumen tidak selalu berarti mereka tidak memiliki kemampuan finansial untuk berbelanja. Sebagian masyarakat justru memilih mempertahankan simpanan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan memburuknya kondisi ekonomi.
"Konsumen bukan tidak punya uang, mereka punya simpanannya. Namun mereka menahan belanja karena ingin berjaga-jaga dari risiko terburuk seperti PHK," jelasnya.
Menariknya, rencana pengeluaran dalam jumlah besar masih tetap dipertahankan. Sebanyak 83 persen responden mengaku telah menyiapkan anggaran untuk melakukan pembelian besar pada masa mendatang.
Rencana tersebut terutama berkaitan dengan kebutuhan seperti renovasi rumah, biaya pendidikan anak, hingga pembelian barang elektronik.
Kondisi ini menunjukkan konsumen tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas belanja. Mereka lebih memilih mengatur waktu dan prioritas pengeluaran sambil mempertahankan cadangan dana untuk menghadapi ketidakpastian.
Populix menilai diperlukan langkah konkret dari pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk menjaga optimisme konsumen. Upaya tersebut antara lain dapat dilakukan melalui pengendalian harga kebutuhan pokok serta penciptaan lapangan kerja yang lebih stabil.
Dengan kondisi harga dan pasar kerja yang lebih terjaga, daya beli masyarakat diharapkan dapat kembali menguat sehingga konsumen memiliki ruang yang lebih besar untuk meningkatkan pengeluaran.