DBS Chief Investment Office 3Q26 Insights: Power Play. Foto: DBS
DBS Chief Investment Office 3Q26 Insights: Power Play. Foto: DBS

Rekomendasi Investasi Kuartal III-2026 DBS: Emas Masih Jadi Andalan?

Annisa ayu artanti • 30 Juni 2026 21:24
Ringkasnya gini..
  • DBS menilai geopolitik dan inflasi masih menjadi faktor utama yang memengaruhi strategi investasi 3Q26.
  • Emas, komoditas, AI, dan sektor energi dinilai memiliki prospek menarik di tengah ketidakpastian global.
  • Diversifikasi portofolio menjadi strategi penting karena pola investasi tradisional dinilai semakin tertantang.
Jakarta: Kondisi ekonomi global yang semakin dinamis membuat investor perlu lebih cermat menyusun strategi investhttps://www.medcom.id/tag/1476/investasiasi. 
 
Memasuki kuartal III 2026, Chief Investment Office DBS menilai berbagai perubahan geopolitik, tekanan inflasi, hingga perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan dalam membangun portofolio investasi.
 
Dalam kajian terbarunya, Chief Investment Officer DBS Hou Wey Fook melihat sejumlah asumsi lama yang selama ini menjadi acuan investor mulai bergeser. 

Perubahan kebijakan fiskal, meningkatnya ketegangan geopolitik, hingga risiko inflasi yang lebih tinggi dinilai akan memengaruhi arah pasar ke depan.
 
"Perkembangan ini mengarah pada rezim makro yang lebih rentan terhadap inflasi dibandingkan dengan yang saat ini diperhitungkan oleh pasar," katanya dalam konferensi pers, Selasa, 30 Juni 2026.

Geopolitik Timur Tengah jadi faktor utama

Dia menjelaskan, ketegangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah memiliki konsekuensi makro yang signifikan. Konflik berkepanjangan ini telah meningkatkan risiko harga energi bertahan lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama, dengan kerentanan pasokan minyak semakin terlihat di tengah penurunan persediaan. 
 
Pada saat sama, ekspansi fiskal yang berkaitan dengan pertahanan dan kebijakan industri turut memperkuat risiko inflasi yang bersifat ekstrem. 
 
"Dengan latar belakang ini, sikap investor yang terlalu tenang terhadap inflasi tampak kurang tepat," ungkapnya.
 
Baca juga: Google Investasi Rp1,3 Triliun ke A24 untuk Kembangkan Teknologi AI

Lonjakan investasi AI

Di luar energi, lanjutnya, lonjakan investasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) juga mulai muncul sebagai faktor pendorong inflasi dalam jangka pendek. 
 
Meskipun AI menjanjikan peningkatan produktivitas, hal tersebut kemungkinan hanya berlaku untuk perspektif jangka panjang. Fase saat ini masih padat belanja modal dan terkendala pasokan. 
 
Dalam jangka pendek, investasi besar-besaran di AI berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi, mengingat pembangunan infrastruktur masif meningkatkan permintaan terhadap berbagai kebutuhan, mulai dari perangkat lunak dan komponen elektronik hingga konsumsi listrik. 
 
Selain itu, keluarnya Tiongkok secara bertahap dari deflasi juga menjadi faktor lain yang mendorong inflasi, seiring stabilnya tekanan harga, yang didukung oleh kebijakan anti-involusi dan kenaikan biaya input komoditas akibat krisis Iran.
 
Perkembangan ini telah mendorong bank-bank sentral untuk mengadopsi pandangan lebih hawkish (kecenderungan menaikkan suku bunga). 
 
Sinyal terbaru dari bank-bank sentral utama mencerminkan pergeseran ini, dengan the Fed, ECB, dan BOE berganti haluan dan bersikap lebih hawkish atau netral. Strategi penetapan harga berbasis pasar juga semakin mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini.
 
"Kerangka kerja tradisional 60/40 semakin tertantang karena korelasi antara saham dan obligasi tetap tinggi dalam rezim inflasi, sehingga memperkuat alasan untuk mencari instrumen aman baru," tuturnya.
 
Menurutnya, obligasi yang tidak lagi memberikan perlindungan andal untuk penurunan nilai, investor jadi membutuhkan diversifikasi investasi alternatif. 
 
"Emas telah memainkan peran ini secara efektif, namun eksposur selektif terhadap komoditas dan saham domestik Tiongkok juga menawarkan manfaat diversifikasi, mengingat korelasinya yang lebih rendah dengan ekuitas global," ujarnya.

Ekspansi belanja modal AI dan energi

Pada saat sama, lanjut dia, perekonomian global sedang memasuki siklus super belanja modal baru, didorong oleh fase ekspansi ganda belanja modal AI dan energi. 
 
Para penyedia layanan awan berskala besar (hyperscaler) terus meningkatkan pengeluaran secara agresif karena permintaan komputasi melampaui pasokan sementara inisiatif kendali atas infrastruktur AI (sovereign AI) menambah lapisan strategis pada investasi infrastruktur. 
 
Di sektor energi, investasi lebih rendah dari yang diharapkan selama bertahun-tahun serta meningkatnya kekhawatiran akan ketahanan energi juga sedang mengkatalisasi pemulihan belanja modal di seluruh rantai nilai. 
 
"Dalam lingkungan seperti ini, kami lebih memilih penerima manfaat tipe penyedia sarana penunjang ("pick-and-shovel") yang diposisikan untuk menangkap peningkatan intensitas belanja modal, khususnya ekosistem semikonduktor, jaringan dan perangkat keras khusus, serta penyedia layanan dan peralatan minyak," ucapnya.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan