Bursa Efek Sri Lanka disuspensi pasca serangkaian pemboman. (FOTO: AFP)
Bursa Efek Sri Lanka disuspensi pasca serangkaian pemboman. (FOTO: AFP)

Pascaledakan, Sri Lanka Suspensi Bursa Efek Kolombo

Ekonomi bursa efek Ledakan Sri Lanka
Ade Hapsari Lestarini • 22 April 2019 10:13
Kolombo: Bursa Efek Kolombo (CSE) tidak akan membuka perdagangannya pada Senin waktu setempat pascaserangkaian pengeboman di Sri Lanka pada Minggu yang menewaskan lebih dari 200 orang.
 
Perbedaan waktu antara Sri Lanka dengan Indonesia yakni satu jam 30 menit. Hingga berita ini diturunkan, Sri Lanka masih berada di pukul 08.26. Adapun pembukaan perdagangan di Sri Lanka pukul 09.30 waktu setempat.
 
Sri Lanka menetapkan jam malam nasional sejak Minggu, 21 April 2019, setelah bom menewaskan sekitar 207 orang di gereja dan hotel pada saat Minggu Paskah. Ini merupakan kekerasan paling mematikan sejak berakhirnya perang saudara di negara itu pada 2009.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menteri Pertahanan Sri Lanka Ruwan Wijewardene mengatakan 13 orang yang berkaitan dengan pemboman tersebut telah ditahan.
 
Pihak Bursa Efek Kolombo melakukan suspensi ini setelah berkonsultasi dengan Komisi Sekuritas dan Efek (SEC) Sri Lanka. Suspensi ini diberlakukan setelah terjadi serangan dan jam malam di negara itu. Pasar tidak akan dibuka pada perdagangan Senin untuk keselamatan dan keamanan para investor.
 
"SEC berkonsultasi dengan CSE akan melakukan penilaian berkelanjutan terhadap kondisi yang diperlukan untuk melakukan pasar secara tertib, dan akan mengeluarkan komunikasi lebih lanjut sesuai perkembangan," kata pernyataan itu.
 
Pemerintah Sri Lanka sudah memblokir media sosial pasca-serangkaian serangan bom. Para pejabat mengatakan langkah sementara diambil untuk mengurangi penyebaran informasi palsu dan meredakan ketegangan.
 
Kementerian Pertahanan Sri Lanka mengatakan penutupan media sosial akan berlanjut sampai pemerintah menyelesaikan penyelidikan atas ledakan bom di beberapa tempat tersebut.
 
Kelompok observer media sosial,NetBlocks, mengatakan mereka mendeteksi pemadaman yang disengaja oleh pemerintah Sri Lanka terhadap media sosial populer, seperti Facebook, Youtube, Whatsapp, Instagram, Snapchat, dan Viber. Menurut mereka, langkah semacam itu tidak efektif.
 
"Apa yang kami lihat adalah ketika media sosial ditutup, justru malah menciptakan kekosongan informasi yang siap dieksploitasi pihak lain," kata Direktur Eksekutif
NetBlocks, Alp Toker, dilansir dari lamanFox News, Senin, 22 April 2019.
 
"Hal itu bisa menambah rasa takut dan bisa menyebabkan kepanikan," imbuh dia.
 
Malah, kata Toker, langkah pemerintah Sri Lanka berpotensi menjadi masalah bagi mereka yang hendak berkomunikasi dengan teman atau keluarga.Tak hanya memblokir media sosial, pemerintah juga memberlakukan jam malam berskala nasional.
 

(AHL)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif