OPEC Dinilai Belum Efektif Stabilkan Harga Minyak
Ilustrasi (Justin Solomon/CNBC)
Kuala Lumpur: Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dinilai belum efektif menstabilkan harga minyak. Adapun stabilitas pasar minyak lebih bergantung pada produksi minyak serpih Amerika Serikat (AS).

"OPEC tidak efektif. Mereka selalu berselisih satu sama lain sehingga mereka tidak bisa membuat keputusan. Yang lebih penting adalah produksi minyak serpih dari Amerika," kata Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, seperti dilansir dari CNBC, Selasa, 13 November 2018.

Komentar itu datang kurang dari sebulan sebelum OPEC dan anggota non-OPEC dijadwalkan bertemu di Wina, Austria, untuk memutuskan kebijakan mereka berikutnya. Adapun OPEC mulai memangkas produksi pada Januari 2017 guna menguras kelebihan minyak mentah global yang membuat harga minyak awalnya USD100 per barel menjadi di bawah USD30.

Harga minyak memang pulih, tetapi ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, meningkatnya suku bunga, dan pelemahan mata uang di pasar negara berkembang telah menimbulkan kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan permintaan minyak.

Sedangkan Malaysia adalah negara penghasil minyak. Analis di Fitch baru-baru ini mengatakan penurunan harga minyak akan menggerogoti upaya Malaysia untuk memangkas utangnya karena ketergantungan pada pendapatan minyak. Tetapi Mahathir menegaskan ekonomi Malaysia tidak hanya bergantung pada minyak dan lebih bervariasi daripada yang dipikirkan secara umum.

"Kami tidak bergantung pada pendapatan minyak. Anda tahu, kami produsen minyak kecil dengan 600 ribu barel per hari. Tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan negara-negara seperti Arab Saudi, yang sepenuhnya bergantung pada pendapatan minyak," kata Mahathir.

Selain itu, tambahnya, Malaysia memiliki sumber pendapatan lain seperti memproduksi minyak sawit yang nantinya digunakan untuk mempertebal pendapatan negara, dan Malaysia juga memiliki kinerja ekspor yang kuat yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi lebih baik lagi di masa mendatang.

"Kami juga memiliki 82 persen dari ekspor kami yang terdiri dari barang-barang manufaktur. Jadi bagaimana Anda bisa mengatakan kami bergantung pada pendapatan minyak. Bukan," pungkasnya.



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id