Krisis Italia Dinilai Memukul Eropa Lebih Keras Dibandingkan Brexit

Angga Bratadharma 01 Juni 2018 16:04 WIB
ekonomi italiaitalia
Krisis Italia Dinilai Memukul Eropa Lebih Keras Dibandingkan Brexit
Ilustrasi (Alberto Pizzoli/AFP)
Roma: Menteri Keuangan Latvia Dana Reizniece-Ozola mengungkapkan gejolak politik Italia bisa memukul benua Eropa lebih keras daripada krisis keuangan Yunani dan suara Brexit. Seminggu pergolakan politik di Italia membuat penentuan harga kembali aset negara dan telah memicu kekhawatiran penularan di seluruh pasar Eropa.

Dana Reizniece-Ozola tidak ragu-ragu menjawab ketika ditanya selama diskusi panel terkait aktivitas pasar baru-baru ini akhirnya dapat berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Tentu ada harapan agar krisis di Italia bisa segera terselesaikan dan tidak memberikan efek buruk terhadap ekonomi Eropa.

"Saya pikir kita dapat melihat dampak Brexit dan telah menyebabkan ke Uni Eropa dan pada umumnya. Dan jika Italia gagal membentuk pemerintah yang mungkin masih pro-Eropa dan masih didedikasikan untuk reformasi maka itu bisa menjadi bahaya yang lebih besar bagi seluruh Eropa," tuturnya, seperti dikutip dari CNBC, Jumat, 1 Juni 2018.

Situasi keuangan Italia sudah menjadi titik perhatian utama bagi blok Uni Eropa yang beranggotakan 28 negara. Pertumbuhannya terganggu, pengangguran tinggi di level 11 persen, dan utang publiknya mencapai 132 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dibandingkan dengan 87 persen zona euro.



Kondisi itu menjadikan Italia sebagai negara termiskin kelima di dunia dan yang kedua di Eropa, setelah Yunani. Untuk itu, Pemerintah Italia harus benar-benar fokus guna menyelasaikan sejumlah persoalan agar tidak terus memburuk di waku-waktu yang akan datang.

"Kami bisa menangani Yunani. Kami bisa dan akan menangani Brexit. Tapi, Italia akan terlalu banyak saya pikir," ungkapnya.

Sejak pemilu di Maret yang melihat dua partai populis dan euroskeptic tampil baik -Gerakan Bintang Lima (M5S) dan sayap kanan Lega- pasar menjadi semakin khawatir berkat janji para pemimpin partai untuk memotong pajak, meningkatkan belanja masyarakat, dan pada dasarnya mengabaikan peraturan fiskal Uni Eropa.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id