Ilustrasi (Medcom.id/Mohammad Rizal)
Ilustrasi (Medcom.id/Mohammad Rizal)

Ikuti kenaikan Wall Street

Bursa Saham Tokyo Dibuka Menghijau

02 April 2019 08:46
Tokyo: Saham-saham Tokyo dibuka lebih tinggi pada perdagangan Selasa pagi mengikuti kenaikan di Wall Street pada Senin waktu setempat (Selasa WIB). Kondisi itu terjadi karena terangkat sentimen data manufaktur yang solid dari Amerika Serikat dan Tiongkok.
 
Mengutip Antara, Selasa, 2 April 2019, pada pukul 09.15 waktu setempat, indeks acuan Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo menambah 127,25 poin atau 0,59 persen dibandingkan dengan tingkat penutupan Senin, menjadi diperdagangkan di 21.636,28 poin.
 
Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas dari semua saham papan utama di pasar Tokyo, bergerak naik 7,92 poin atau 0,49 persen, menjadi diperdagangkan pada 1.623,73 poin. Saham-saham transportasi laut, logam non besi, serta besi dan baja paling banyak mencatat kenaikan pada menit-menit pembukaan setelah bel perdagangan pagi.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 329,74 poin atau 1,27 persen menjadi 26.258,42 poin. Indeks S&P 500 naik 32,79 poin atau 1,16 persen menjadi 2.867,19 poin. Indeks Komposit Nasdaq meningkat 99,59 poin atau 1,29 persen menjadi 7.828,91 poin.
 
Indeks acuan S&P 500, yang hanya 2,2 persen di bawah rekor penutupan tertinggi pada September, memicu pola golden cross, di mana rata-rata pergerakan 50-hari melintas di atas rata-rata pergerakan 200-hari. Banyak yang percaya sinyal teknis ini bisa menandakan lebih banyak keuntungan untuk saham dalam jangka pendek.
 
Keuntungan di pasar-pasar ekuitas global didorong oleh data yang menunjukkan bahwa sektor manufaktur Tiongkok secara tak terduga kembali ke pertumbuhan pada Maret untuk pertama kalinya dalam empat bulan.
 
"Angka-angka Tiongkok bangkit kembali, dan orang-orang mengambil lebih banyak risiko hari ini karenanya," kata Kepala Strategi Pasar JonesTrading Michael O'Rourke, di Greenwich, Connecticut.
 
Angka manufaktur AS untuk Maret juga lebih baik dari yang diperkirakan, membantu investor mengabaikan data penjualan ritel lemah untuk Februari. Sedangkan kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global telah meredupkan sentimen sejak Federal Reserve mengumumkan pada akhir Januari bahwa pengetatan moneternya akan berakhir lebih awal.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ABD)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan