Ilustrasi (Marco Bertorello/AFP)
Ilustrasi (Marco Bertorello/AFP)

Surplus Perdagangan Italia Menyusut

Ekonomi ekonomi italia
22 Desember 2018 16:03
Roma: Surplus perdagangan Italia menyusut karena peningkatan dramatis dalam ekspor Italia yang dimulai tahun lalu terus melambat hingga sekarang ini. Adapun Italia merupakan eksportir terbesar kedua di Uni Eropa yang artinya perekonomiannya sangat bergantung pada barang dan jasa yang dijual keluar negeri.
 
Menurut data terbaru dari Institut Statistik Nasional Italia, ISTAT, ekspor Italia selama 10 bulan pertama tahun ini melampaui impor sebesar 32,3 miliar euro (USD36,7 miliar). Adapun angka itu turun hampir sebanyak 15 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya atau setara 5,6 miliar euro (USD6,4 miliar).
 
Mengutip Xinhua, Sabtu, 22 Desember 2018, ISTAT, mengungkapkan untuk Oktober saja, perbedaannya bahkan lebih dramatis yakni surplus perdagangan mencapai 3,8 miliar euro (USD4,3 miliar), hampir seperempat lebih rendah daripada periode yang sama pada 2017.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Angka-angka dalam laporan penelitian baru dari SACE, sebuah think tank yang berbasis di Roma, sejalan dengan yang berasal dari ISTAT. Tetapi SACE semakin memecah angka-angkanya untuk menunjukkan bahwa kondisi itu terjadi terutama karena Italia berdagang dengan negara-negara di luar Uni Eropa.
 
Salah satu faktor penting dalam perhitungan adalah perdagangan dengan Rusia dan Turki, yang keduanya telah terputus secara dramatis akibat sanksi Uni Eropa terhadap negara-negara tersebut. Tetapi peningkatan perdagangan dengan Amerika Serikat, bersama dengan Jerman, Tiongkok, dan negara-negara penghasil minyak bumi membantu menyeimbangkannya.
 
Sebaliknya, impor Italia dari Tiongkok naik lebih dari 25 persen dari tahun ke tahun, negara-negara penghasil minyak naik 34 persen, dan Amerika Serikat naik 16 persen telah membantu impor Italia menutup kesenjangan pada ekspor.
 
Surplus perdagangan yang lebih kecil datang meskipun mata uang euro relatif lemah di mana mata uang yang lemah biasanya membuat produk yang dijual di luar negeri lebih murah dan yang diimpor lebih mahal. Selain itu, surplus menyempit di tengah pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang kurang dari satu persen selama empat kuartal terakhir.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif