Ilustrasi. FOTO: AFP
Ilustrasi. FOTO: AFP

OPEC+ Bahas Pemotongan Produksi Minyak Lebih Dalam

Ekonomi minyak mentah opec
Antara • 12 September 2019 09:14
Abu Dhabi: OPEC dan sekutunya akan membahas apakah ada kebutuhan untuk pengurangan produksi minyak yang lebih dalam ketika mereka mengadakan pertemuan tingkat menteri pada Kamis. Sejauh ini, OPEC dan sekutunya terus berupaya agar harga minyak dunia bisa kembali ke level yang tinggi.
 
Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan produsen sekutu yang dipimpin oleh Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, tahun lalu sepakat untuk mengurangi pasokan minyak sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) untuk mendukung harga. Pemotongan mulai berlaku pada 1 Januari.
 
Menteri Perminyakan Irak Thamer Ghadhban mengatakan ketika OPEC dan sekutu-sekutunya bertemu pada Juni ada pemahaman umum. "Bahwa mungkin enam bulan sejak Januari tidak cukup waktu untuk menilai pemotongan yang telah kami perkenalkan dan kami membutuhkan dua bulan lagi," tukasnya, seperti dikutip dari Antara, Kamis, 12 September 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Itu lah sebabnya pertemuan ini akan diadakan besok, untuk melihat apakah kita harus melanjutkan pemotongan ini atau haruskah kita memperkenalkan pengurangan yang lebih dalam. Ini bukan keputusan sepihak, itu adalah keputusan bersama," tambahnya.
 
Komite pengawasan gabungan menteri OPEC+, yang dikenal sebagai JMMC, bertemu pada Kamis di Abu Dhabi di sela-sela konferensi energi. Menteri Irak mengatakan ketika pemotongan OPEC+ awalnya mempertimbangkan pemotongan pada November ada dua alternatif 1,6 dan 1,8 juta barel per hari.
 
"Tapi ada pertentangan oleh beberapa anggota dan itu lah mengapa kami menyepakati 1,2 juta barel per hari," katanya.
 
Harga minyak Brent telah jatuh ke sekitar USD60 per barel dalam beberapa pekan terakhir dari tertinggi 2019 di USD75 per barel, karena kekhawatiran tentang ekonomi global yang melambat melebihi gangguan pasokan dari Iran dan Venezuela yang terkena sanksi.
 
Pelaku pasar khawatir perang perdagangan AS-Tiongkok dapat mendorong pertumbuhan permintaan minyak di bawah satu persen untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun. Menteri Energi Rusia Alexander Novak prihatin dengan perlambatan ekonomi global.
 
Dia mengatakan kepada wartawan bahwa permintaan yang melambat akan dibahas pada pertemuan Kamis tetapi mengatakan tidak ada proposal konkret sejauh ini untuk menyesuaikan hasil. Menteri energi baru Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengesampingkan kekhawatiran tersebut minggu ini.
 
Ia mengatakan permintaan akan meningkat setelah ancaman perdagangan menghilang. Ghadhban, yang negaranya adalah produsen minyak terbesar kedua di OPEC setelah Arab Saudi, mengatakan ia bertemu dengan menteri energi Saudi dan Rusia pada Rabu 11 September.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif