The Final Markit atau Nikkei Japan Manufacturing Purchasing Managers Index (PMI) berada di 52,7 atau sedikit di bawah 52,8 pada bulan sebelumnya. Namun, masih di atas level 52,4 yang terjadi pada bulan sebelumnya. Indeks tetap di atas batas 50 yang memisahkan ekspansi dari kontraksi untuk bulan kedelapan berturut-turut.
Mengutip Reuters, Senin 1 Mei 2017, indeks akhir untuk pesanan ekspor baru adalah 53,3, kurang dari prediksi 53,9, namun masih tumbuh lebih cepat dari 51,9 pada bulan sebelumnya karena permintaan dari Asia Tenggara sebagaimana dalam data survei.
Sementara harga input meningkat tajam karena biaya bahan baku yang lebih tinggi, panelis juga berusaha melindungi margin keuntungan dengan menaikkan biaya mereka. Itu merupakan indikator menyambut tujuan Bank of Japan (BoJ) yang akan menaikkan inflasi ke target dua persen, sebuah tugas yang telah terbukti sulit untuk dipahami.
Indeks harga output pada April di 51,2 atau naik dari capaian 50,1 di Maret, indeks harga mengalami kenaikan untuk bulan keempat secara berturut-turut dan berada di level tertinggi dalam hampir 2-1/2 tahun. Survei juga menunjukkan bahwa output perusahaan naik dari Maret meskipun terlihat di bawah hasil awal dengan kenaikan produksi terakhir yang didorong oleh produsen barang modal.
Output industri turun lebih dari yang diperkirakan pada Maret karena produsen elektronik dan otomotif menahan produksi, sebagimana dalam data pemerintah pada pekan lalu, mendorong beberapa ekonom mempertanyakan kekuatan sektor industri.
Bagaimanapun, laporan PMI untuk April menunjukkan penurunan ini bisa bersifat sementara karena pesanan dan output luar negeri tetap pada pijakan yang kuat. Adapun pemerintah Jepang terus berupaya agar pertumbuhan ekonomi bisa terus mengalami penguatan di waktu-waktu yang akan datang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News