"Sudah waktunya dilakukan operasi pasar. Saya juga sudah beberapa kali mengirim surat kepada Bulog untuk melakukan operasi pasar," kata Enggartiasto, ditemui usai Rakor di Hotel El Kartika Widjaya, Kota Batu, Jawa Timu, Jumat, 4 Oktober 2019.
Ia menyarankan operasi pasar yang digelar bukan berupa penjualan beras medium oleh Perum Bulog di depan pasar rakyat, seperti yang biasa dilakukan. Namun, seluruh pedagang di pasar rakyat harus menyediakan beras Bulog sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni Rp9.450.
"Ketersediaan beras medium harus terjangkau. Daya beli masyarakat jangan sampai tergerus akibat tidak tersedia beras medium bagi masyarakat," ujarnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2019 mencatat adanya deflasi sebesar 0,27 persen. Namun demikian, kelompok padi-padian dan umbi-umbian mengalami kenaikan harga sebesar 0,13 persen dan memberi andil inflasi 0,01 persen.
Menurut Enggartiasto, kenaikan harga beras tersebut harus diwaspadai mengingat laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan musim penghujan di Indonesia diperkirakan baru terjadi pada November 2019.
Sebagian besar wilayah di Indonesia masih mengalami tingkat hujan rendah-menengah, khususnya di daerah sentra produksi pangan seperti Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi bagian selatan.
"Artinya, musim tanam mundur. Akan tetapi, jangan sampai ada keterlambatan pasokan," ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh memastikan bakal menggelar operasi pasar beras di berbagai wilayah di Indonesia dalam waktu dekat. Sedikitnya 600.000 ton beras medium akan digelontorkan untuk menurunkan harga komoditas tersebut.
Pada sisa waktu di penghujung 2019 ini, Bulog juga akan menggelontorkan beras medium ke pasar rakyat untuk menurunkan harga dan menjamin ketersediaan pasokan beras kualitas medium kepada masyarakat.
"Untuk Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSA) baru sekitar 340 ribu ton. Target kami pada 2019, satu juta ton. Jadi masih ada sekitar 600 ribuan ton yang harus digelontorkan hingga akhir Desember 2019," paparnya.
Saat ini stok beras kualitas medium yang dimiliki Perum Bulog berada dalam kondisi yang sangat aman dengan total mencapai 2,3 juta ton. Dengan jumlah tersebut, kata Tri, diperkirakan masih cukup untuk kebutuhan hingga masuknya musim panen ke depan.
Menurut Tri kebutuhan masyarakat untuk beras kualitas medium diprediksi meningkat di November dan Desember 2019, khususnya menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2020. Adapun pada Januari-Februari 2020 permintaan masih tinggi, sementara produksi beras masih memasuki musim tanam sehingga pemerintah perlu melakukan langkah antisipasi kenaikan harga beras.
"Panen diperkirakan Maret-April 2020. Jadi, yang perlu diantisipasi ialah November dan Desember 2019, dan Januari, Februari 2020 karena harga pasti tinggi," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News