Kantor Pusat Bank of Japan, Tokyo. FOTO: AFP
Kantor Pusat Bank of Japan, Tokyo. FOTO: AFP

Bank Sentral Jepang Tidak Ubah Arah Kebijakan Moneter

Ekonomi ekonomi jepang bank of japan (boj)
Angga Bratadharma • 02 November 2019 18:03
Tokyo: Bank sentral Jepang yakni Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneternya pada akhir pertemuan pengaturan kebijakan dua hari. Langkah itu diambil dengan catatan bank sentral Jepang siap memangkas suku bunga acuan jika diperlukan.
 
Adapun bank sentral Jepang mengambil sikap tidak mengubah kebijakan moneter juga dengan harapan bisa menjaga target inflasi. "BoJ harap suku bunga jangka pendek dan jangka panjang tetap di level saat ini atau lebih rendah selama ada kemungkinan menuju tujuan inflasi dua persen," kata BoJ, seperti dikutip dari Xinhua, Sabtu, 2 November 2019.
 
Dalam pertemuan itu, BoJ menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi di tahun-tahun mendatang yang menunjukkan adanya langkah-langkah stimulus lebih lanjut. Dalam hal prospek bisnis bank, BoJ memangkas perkiraan inflasi untuk tahun fiskal 2019 hingga Maret menjadi 0,7 persen dari perkiraan 1,0 persen pada Juli lalu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bank sentral Jepang juga menurunkan perkiraan inflasi untuk tahun fiskal 2020 menjadi 1,1 persen dan 2021 menjadi 1,5 persen, dari perkiraan sebelumnya masing-masing 1,3 persen dan 1,6 persen. Pada akhir pertemuan dua hari, Dewan Kebijakan BoJ memilih untuk mempertahankan suku bunga jangka pendek pada minus 0,1 persen.
 
Sedangkan suku bunga jangka panjang ditetapkan bank sentral Jepang di sekitar nol persen. Lebih lanjut, bank sentral Jepang memilih untuk mempertahankan program pembelian aset yang masif. Kesemuanya diharapkan bisa menjaga stabilitas perekonomian Jepang termasuk memitigasi sejumlah risiko yang bisa datang kapan saja.
 
Di sisi lain, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) dalam proyeksi terbarunya mengungkapkan pertumbuhan ekonomi di seluruh Asia akan melambat lebih dari yang diharapkan. Kondisi semacam ini tentu patut diperhatikan agar pelemahan pertumbuhan ekonomi tidak kian dalam.
 
Dalam laporan Outlook Ekonomi Regional yang dirilis, IMF mengatakan, pertumbuhan ekonomi di Asia bisa moderat hingga lima persen pada 2019, dan 5,1 persen pada 2020. Perkiraaan itu masing-masing lebih rendah 0,4 persen dan 0,3 persen dari proyeksi April.
 
Di antara ekonomi utama Asia yang paling terpukul dan lebih dari yang diperkirakan ialah Hong Kong -yang sudah terpukul oleh kerusuhan selama berbulan-bulan- bisa tumbuh hanya 0,3 persen di tahun ini dan 1,5 persen pada 2020. Masing-masing lebih rendah 2,4 persen dan 1,5 persen daripada proyeksi awal dana tersebut.
 
Awal pekan ini, IMF memproyeksikan ekonomi Tiongkok dapat tumbuh 5,8 persen di tahun depan atau lebih lambat dari perkiraan 6,1 persen untuk 2019. "Risiko di kawasan ini termasuk perlambatan yang lebih cepat dari perkiraan di Tiongkok, memperdalam ketegangan regional seperti hubungan bilateral Jepang dan Korea, meningkatkan risiko geopolitik," kata IMF.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif