Ilustrasi (FOTO: AFP)
Ilustrasi (FOTO: AFP)

Harga Minyak Dunia Turun

Ekonomi minyak mentah
18 Juni 2019 08:04
New York: Harga minyak dunia turun lebih dari satu persen pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB). Pelemahan terjadi setelah angka-angka ekonomi Tiongkok yang lebih buruk memicu kekhawatiran tentang permintaan minyak dunia lebih rendah.
 
Mengutip Antara, Selasa, 18 Juni 2019, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun USD0,58 atau 1,10 persen menjadi menetap pada USD51,93 per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus turun USD1,07 atau 1,73 persen ditutup USD60,94 per barel di London ICE Futures Exchange.
 
Harga minyak telah turun sekitar 20 persen dari tingkat tertinggi 2019 yang dicapai pada April, sebagian karena kekhawatiran tentang perang perdagangan Amerika Serikat dan Tiongkook serta data ekonomi yang mengecewakan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pertumbuhan output industri Tiongkok secara tak terduga melambat ke level terendah dalam lebih dari 17 tahun, data dari Biro Statistik Nasional menunjukkan. Output industri Tiongkok tumbuh 5,0 persen pada Mei dari setahun sebelumnya, gagal memenuhi ekspektasi analis untuk pertumbuhan 5,5 persen dan jauh di bawah 5,4 persen pada April.
 
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dapat bertemu di KTT G20 di Jepang akhir bulan ini. Trump mengatakan dia akan bertemu dengan Xi di KTT, meskipun Tiongkok belum mengkonfirmasi pertemuan itu.
 
"Semua agen-agen pelaporan utama melaporkan bahwa permintaan akan lebih lemah. Itu telah menyebabkan kelesuan pasar. Hal-hal yang biasanya mendorong reli, tidak akan terjadi," kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago.
 
Bank of America Merrill Lynch menurunkan perkiraan harga Brent menjadi USD63 per barel dari USD68 per barel untuk paruh kedua 2019, di tengah permintaan yang goyah.
 
Kekhawatiran tetap tentang meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah serangan minggu lalu terhadap dua kapal tanker minyak di Teluk Oman. Amerika Serikat menyalahkan serangan tersebut terhadap Iran, tetapi Teheran membantah terlibat.
 
Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan bahwa negara-negara perlu bekerja sama untuk menjaga jalur pelayaran terbuka untuk minyak dan pasokan energi lainnya, guna memastikan pasokan yang stabil.
 
Pelaku pasar juga menunggu pertemuan antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lain termasuk Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, untuk memutuskan apakah akan memperpanjang perjanjian pemangkasan produksi yang berakhir bulan ini.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif