Ilustrasi kilang minyak. FOTO: AFP.
Ilustrasi kilang minyak. FOTO: AFP.

Lonjakan Harga Minyak dalam Sepekan

Ekonomi minyak mentah
Ade Hapsari Lestarini • 23 September 2019 07:21
Houston: Harga minyak mentah dunia melonjak di pekan yang berakhir 20 September, setelah serangan terhadap fasilitas produksi minyak mentah Arab Saudi akhir pekan lalu. Harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik 5,91 persen dan minyak mentah brent untuk pengiriman November naik 6,74 persen.
 
Selama minggu ini, harga minyak mengalami lonjakan, jatuh kembali, dan kemudian naik lebih rendah, serta mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam beberapa bulan. WTI menutup minggu ini di posisi USD58,09 per barel di New York Mercantile Exchange, sementara Brent berada di level USD64,28 per barel di London ICE Futures Exchange.
 
Melansir Xinhua, Senin, 23 September 2019, harga WTI dan minyak mentah Brent telah meningkat masing-masing 27,95 persen dan 19,48 persen sepanjang tahun ini. Serta sempat turun dari level puncaknya pada April ketika pertumbuhan WTI mencapai lebih dari 40 persen, dan minyak mentah Brent lebih dari 30 persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selama minggu ini, minyak mentah WTI dan Brent bergerak ke arah yang sama. Harga minyak melonjak pada Senin setelah serangan pesawat tak berawak menghantam fasilitas minyak utama Arab Saudi dan memaksa negara itu untuk memotong setengah dari produksi minyak mentahnya.
 
Menurut perkiraan, ledakan itu menyebabkan terganggunya sejumlah pasokan minyak mentah yang diperkirakan mencapai 5,7 juta barel, atau sekitar 50 persen dari produksi pabrik Saudi Aramco. Alhasil WTI naik USD8,05 menjadi ke USD62,9 per barel, sementara minyak mentah Brent naik USD8,8 menjadi ke USD69,02 per barel.
 
Harga minyak mulai menurun pada Selasa setelah laporan berita menunjukkan bahwa Arab Saudi akan segera mengembalikan produksi minyaknya. Tren penurunan ini berlanjut pada Rabu karena data menunjukkan peningkatan mengejutkan dalam persediaan minyak mentah AS. Selama dua hari, WTI kehilangan USD4,79 dan minyak mentah Brent turun USD5,42.
 
Persediaan minyak mentah AS naik 1,058 juta barel selama pekan yang berakhir 13 September, berbanding terbalik dengan pasar yang berharap persediaan sebesar 2,496 juta barel, yang menyiratkan permintaan lebih lemah dan bearish untuk harga minyak mentah.
 
Pada Kamis, harga minyak kembali naik karena pasar tetap khawatir tentang kemungkinan kekurangan pasokan. Meskipun Menteri Energi Saudi Abdulaziz bin Salman mengatakan bahwa pasokan minyak akan sepenuhnya pulih pada akhir September, analis mengatakan rendahnya kapasitas cadangan global saat ini tetap menjadi perhatian bagi investor dan mendukung harga minyak.
 
WTI pun berangsur naik tipis USD0,02 menjadi USD58,13 per barel, sementara minyak mentah Brent naik USD0,8 menjadi USD64,4 per barel.
 
Pada Jumat, harga minyak turun lagi meskipun ada penurunan jumlah rig AS. WTI kehilangan USD0,04 menjadi USD58,09 per barel, sementara minyak mentah Brent turun USD0,12 menjadi USD64,28 per barel.
 
Harga minyak terus mendapatkan momentum sejak awal tahun karena beberapa kekhawatiran geopolitik dan keputusan OPEC untuk mengurangi produksi. Momentum telah melambat, terutama karena kekhawatiran atas penurunan permintaan minyak mentah.
 
Perlambatan ekonomi global terus menjadi angin sakal utama bagi minyak mentah. Pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih lambat, terutama karena perselisihan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, akan menyebabkan berkurangnya permintaan minyak, sehingga menekan harga minyak.
 
Selain itu, kenaikan dolar AS dalam beberapa bulan terakhir telah menyeret turun minyak mentah berjangka berdenominasi greenback, karena indeks dolar AS telah terus naik sejak pertengahan 2018. Selama pekan yang berakhir 20 September, indeks dolar AS selesai dengan catatan positif, melampaui level 98,40.
 
Harga minyak sebagian besar diperdagangkan dalam dolar di seluruh dunia dan dolar yang lebih kuat menekan permintaan minyak. Namun, kekhawatiran atas pasokan minyak mentah setelah serangan terhadap fasilitas produksi Arab Saudi jelas telah mengatasi kekhawatiran tentang melambatnya pertumbuhan ekonomi serta tingkat indeks dolar AS yang lebih kuat.
 
Untuk minggu yang akan datang, pasar akan mengamati dengan seksama pembicaraan perdagangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Keduanya mengadakan pembicaraan perdagangan tingkat wakil menteri di Washington pada Kamis dan Jumat, dan melakukan diskusi konstruktif tentang masalah ekonomi dan perdagangan yang menjadi perhatian bersama.
 
Kedua belah pihak juga dengan hati-hati membahas pengaturan khusus untuk putaran ke-13 Tiongkok-AS. Konsultasi ekonomi dan perdagangan tingkat tinggi dijadwalkan Oktober di Washington. Kedua belah pihak sepakat untuk terus menjaga komunikasi tentang masalah terkait.
 
Sementara itu, menurut analis, prospek harga minyak tetap berfluktuasi karena krisis minyak Saudi. Pertanyaannya adalah seberapa cepat produksi dapat dipulihkan, dan berapa banyak kapasitas cadangan yang tersisa di pasar minyak.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif