"Ini menjadi peringatan terhadap memperluas stimulus moneter lebih lanjut. Pasar obligasi disfungsional dan kebijakan fiskal sangat bergantung pada uang murah yang ditawarkan oleh bank," kata mantan Deputi Gubernur BoJ Toshiro Muto, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (27/10/2016).
Muto, mempertahankan pengaruh yang kuat di antara pembuat kebijakan, juga mengatakan akan sulit bagi Jepang untuk melakukan intervensi di pasar mata uang guna membendung keuntungan yen kecuali mata uang menguat di bawah 100 terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
"Yen berdiri sekitar 104 terhadap dolar pada Rabu. Ada kemungkinan jika paku yen melampaui 100 dolar dan kepala ke arah 90 tiba-tiba," kata Mutoh, menanggapi ketika ditanya tentang kemungkinan intervensi penjualan yen Jepang.
Lebih lanjut, Muto mengatakan, untuk melakukan intervensi di pasar mata uang maka Jepang perlu memberikan penjelasan secara menyeluruh kepada berbagai macam pihak. Hal itu penting guna mempermudah Pemerintah Jepang dan BoJ melakukan intervensi untuk memulihkan perekonomiannya.
"Tapi Jepang akan perlu untuk menjelaskan niatnya secara menyeluruh dan mendapatkan pemahaman dari AS dan otoritas keuangan Eropa. Jika tidak, akan sulit untuk campur tangan," kata Muto, yang juga menjabat sebagai birokrat keuangan atas Jepang.
Adapun pergeseran kebijakan BoJ atas kerangka kebijakan baru diapresiasi Muto karena membuat kebijakan jadi lebih berkelanjutan. Namun, dia memperingatkan terhadap perluasan stimulus moneter lebih lanjut dan meminta BoJ untuk fokus pada kerugian dari kebijakan pelonggarannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News