Surplus saat ini diperkirakan mengalami penurunan menjadi 2,643 triliun yen (USD23,35 miliar) pada Maret dari sebelumnya mengalami surplus sebesar 2.814 triliun yen di Februari, jajak pendapat terhadap 16 analis ditemukan.
Surplus perdagangan dan giro Jepang dengan Amerika Serikat (AS) akan diawasi ketat karena Presiden AS Donald Trump menjalankan kebijakan perdagangan proteksionisme. Dia sebelumnya menuduh Jepang melemahkan yen dengan sengaja untuk membantu meningkatkan ekspor.
"Neraca pendapatan luar negeri terus tinggi dan neraca perdagangan mengalami tren surplus sejak tahun lalu. Tergantung pada kebijakan apa yang Trump adopsi maka neraca perdagangan bisa menyusut atau meningkat. Tapi saya pikir surplus akan berlanjut," kata Ekonom Senior SMBC Nikko Securities Koya Miyamae, seperti dikutip dari Reuters, Rabu 10 Mei 2017.
Kementerian Keuangan Jepang akan mengumumkan data tersebut pada pukul 08.50 waktu Jepang di Kamis (2350 GMT, Rabu). Data perdagangan Maret Jepang menunjukkan ekspor naik pada laju tercepat dalam lebih dari dua tahun karena peningkatan pengiriman suku cadang mobil dan baja.
Di sisi lain, Sekretaris Perdagangan AS Wilbur Ross menyebut Washington tidak dapat lagi mempertahankan defisit perdagangan yang meningkat dengan mitra dagangnya, menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan pekan lalu oleh departemen tersebut.
Menteri Keuangan Jepang Taro Aso menegaskan bahwa dia tidak melakukan diskusi mengenai defisit perdagangan saat dia berbicara dengan Ross awal pekan lalu. Adapun Pemerintah Jepang terus berupaya memacu pertumbuhan ekonomi agar bisa lebih baik di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News