KTT G20 di Osaka, Jepang (FOTO: Sekretariat Negara)
KTT G20 di Osaka, Jepang (FOTO: Sekretariat Negara)

Sengketa Dagang AS-Tiongkok Diyakini Dominasi Pertemuan G20

Ekonomi ekonomi amerika ekonomi china tiongkok as-tiongkok Perang dagang
Angga Bratadharma • 29 Juni 2019 14:03
Beijing: Sengketa perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, termasuk ketegangan antara AS dengan Iran diyakini mendominasi pembicaraan dalam pertemuan puncak G20. Pertemuan tersebut menjadi penting dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya lantaran dunia sedang mengalami ketidakpastian, baik dari sisi ekonomi maupun politik.
 
Bahkan, persoalan tidak hanya berkutat antara sengketa dagang AS-Tiongkok dan ketegangan AS-Iran. Titik fokus juga mengenai Korea Utara, ekonomi Venezuela, dan perekonomian dunia yang sedang melambat yang juga menjadi agenda utama dalam pertemuan dua hari para pemimpin dari kelompok 20 negara terkemuka dunia di Osaka, Jepang.
 
Mengutip AFP, Sabtu, 29 Juni 2019, Presiden AS Donald Trump pekan lalu memicu harapan untuk menghentikan perang dagang yang sudah berjalan lama. Trump mengatakan akan mengadakan pembicaraan dengan Xi Jinping usai terjadi pembicaraan via telepon yang sangat baik.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, Xi mengatakan kepada Trump bahwa Tiongkok dan AS akan mendapatkan keuntungan dengan bekerja sama. Kedua belah pihak hampir mencapai kesepakatan sebelumnya ketika perundingan gagal tiba-tiba pada bulan lalu. Yang terjadi justru Trump memutuskan untuk mengenakan tarif baru terhadap Tiongkok dan aksi itu dibalas dengan aksi serupa.
 
Trump telah mengenakan USD200 miliar impor Tiongkok dengan tarif yang tinggi. Dan Trump telah mengancam kembali untuk mengenakan tarif baru terhadap USD300 miliar impor yang akan menyakiti ekonomi Tiongkok yang sudah melambat dan menyebarkan kesuraman di seluruh dunia.
 
Pengamat ekonomi Matthew Goodman mengatakan terobosan yang menentukan mungkin dilakukan dalam perundingan AS-Tiongkok. Akan tetapi bukan skenario yang paling mungkin terjadi mengingat kompleksitas masalah. Walau tidak ditampik ada harapan kesepakatan dagang bisa segera terhenti secepat mungkin.
 
"Trump menyukai kesepakatan, jadi dia mungkin menyetujui sesuatu. Kemungkinan besar mereka menyetujui gencatan senjata dan memulai kembali pembicaraan. Dan mencoba mencapai semacam kesepakatan dalam waktu tiga bulan," kata Matthew Goodman, yang merupakan pakar ekonomi di Pusat Studi Strategis dan Internasional yang berbasis di AS.
 
Lebih lanjut, Goodman menilai keputusan Trump yang berencana menaikkan tarif hingga 40 persen jika pembicaraan dagang gagal dengan Tiongkok tidak lah tepat. Menurutnya perlu ada upaya lain yang tepat untuk menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah lain.
 
"Itu tidak akan menyelesaikan masalah secara langsung," ungkap Goodman.
 
Sementara itu, ekonom dan pelaku pasar berharap pakta perdagangan antara AS-Tiongkok dapat disepakati. Pasalnya kondisi ekonomi global sekarang ini tidak mampu menerima ketegangan perdagangan lebih lanjut antara dua pemain ekonomi terbesar itu.
 
"Ini buruk bagi semua orang. Ini adalah situasi tanpa kemenangan," kata Direktur Unit Dukungan Kebijakan untuk APEC (Kerja sama Ekonomi Asia-Pasifik) Denis Hew.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif