Saudi Aramco. Foto : AFP.
Saudi Aramco. Foto : AFP.

Calon Investor Diminta Waspadai Saham Saudi Aramco

Ekonomi saudi aramco
Nia Deviyana • 06 November 2019 05:22
Jakarta: Saudi Aramco akhirnya memutuskan untuk melempar sahamnya ke publik. Penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) raksasa minyak ini disebut-sebut akan menjadi IPO terbesar di dunia.
 
Analis menyarankan investor harus hati-hati sebelum membeli saham Saudi Aramco. Salah satunya, karena perusahaan BUMN itu belum secara detail menentukkan jumlah dan presentase saham yang akan dijual. Perusahaan baru akan mengumumkannya pada akhir bookbuilding dan prospektus IPO perusahaan baru akan dirilis pada 9 November.
 
"Para analis dibiarkan berspekulasi pada rincian penawaran yang lebih baik," kata analis sumber daya di Fat Prophets David Lennox seperti dilansir CNBC Internasional, Selasa, 5 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lennox mengatakan valuasi Saudi Aramco sejauh ini berbeda-beda bagi tiap investor. Sejauh ini, Lennox mengatakan valuasi perusahaan berada di rentang USD1 triliun hingga USD2 triliun.
 
"Tapi kami menilai sekitar USD1,4 triliun sehingga Anda dapat memilih. Faktor lain yang tidak kita ketahui saat ini adalah seberapa banyak saham free float (jumlah saham minoritas yang beredar dan ditransaksikan di pasar reguler)? Jadi ada banyak pertanyaan yang belum kami jawab sebelum orang dapat mengatakan kami akan melihat IPO ini berjalan," jelasnya.
 
Seorang sumber mengatakan Saudi Aramco bakal melepas lima persen sahamnya kepada publik, dan 1-2 persen akan dilepas di bursa saham lokal. Adapun untuk IPO internasional, Saudi Aramco memiliki beberapa pilihan yakni bursa saham New York, London, Hong Kong, dan Tokyo.
 
Analis memperkirakan apabila Aramco mendapatkan valuasi sebesar USD1,5 triliun, angka ini akan mengalahkan valuasi perusahaan raksasa seperti Apple dan Microsoft.
 
Saudi Aramco menyatakan salah satu prioritasnya adalah memberikan dividen yang berkelanjutan dan tumbuh melalui siklus harga minyak mentah, serta tunduk pada kebijaksanaan dewan dengan mempertimbangkan sejumlah faktor.
 
Dewan direksi Aramco akan mendeklarasikan dividen tunai agregat setidaknya USD75,0 miliar sehubungan dengan tahun kalender 2020, selain potensi dividen khusus.
 
Adapun besaran dividen akan bergantung pada jumlah saham perusahaan yang ditetapkan untuk dilepas ke publik. "Kami mendapat jumlah dividen, tetapi kami tidak tahu jumlah sahamnya," kata Lennox.
 
Sementara itu, analis di Bernstein mencatat bahwa sulit untuk mengevaluasi perusahaan seperti Aramco, yang disebut-sebut dengan perusahaan minyak rakasa.
 
Saudi Aramco adalah perusahaan paling menguntungkan di dunia, yang mana pada 2018 laba bersihnya mencapai USD111 miliar, lima kali lebih besar dari Exxon atau Shell. Para analis juga mencatat perusahaan memiliki masa cadangan minyak 52 tahun dan cadangannya adalah yang termurah untuk diekstraksi.
 
"Nilai wajar bagi perusahaan dengan akses ke 201 miliar barel cadangan minyak terbukti, menghasilkan satu di setiap delapan barel minyak global, berperan penting dalam mendukung harga minyak, dan memiliki sistem Downstream terintegrasi terbesar ke-4 di dunia. Sementara kita terbiasa menilai Big Oil, Aramco adalah Monster Oil, jadi ini benar-benar pertanyaan tentang triliun dolar," papar Analis Senior Bernstein Oswald Clint dan Neil Beveridge dalam sebuah catatannya.
 
Geopolitik
 
Faktor-faktor geopolitik, seperti hubungan Arab Saudi yang tegang dengan Iran, juga dapat meredam sentimen investor.
 
"Jika Anda melihatnya dari perspektif investor internasional, jelas ada kekhawatiran," kata anggota komite investasi di Quilvest Wealth Management, Bob Parker.
 
"Kami juga memiliki risiko infrastruktur terkait serangan drone dan rudal beberapa bulan yang lalu dan sebagian besar infrastruktur Saudi Aramco sedang rusak," jelas Bob.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif