Ilustrasi (AFP PHOTO/MANDEL NGAN)
Ilustrasi (AFP PHOTO/MANDEL NGAN)

Sinyal Resesi Tekan Fed untuk Pangkas Suku Bunga

Ekonomi ekonomi amerika the fed
Angga Bratadharma • 17 Agustus 2019 20:02
New York: Indikator resesi di pasar obligasi telah menambah tekanan kepada Federal Reserve, ketika mereka berencana melakukan pertemuan pada bulan depan. Adapun pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS) itu menjadi penting guna memberikan sinyal bagi investor terkait penurunan suku bunga acuan kembali.
 
Selisih antara imbal hasil surat utang Pemerintah AS bertenor dua dan 10 tahun berbalik arah karena utang jangka pendek naik di atas tingkat suku bunga acuan AS. Itu mengartikan indikator bakal terjadinya resesi. Tentu ada harapan agar resesi tersebut tidak terjadi dan perlu diantisipasi oleh semua pihak secepat mungkin.
 
Sedangkan the Fed diperkirakan kembali memangkas suku bunga acuan sebanyak seperempat poin. Tetapi dengan sinyal ekonomi yang semakin negatif, timbul pertanyaan apakah bank sentral AS bakal bertindak lebih agresif atau tidak. Hal itu tentunya guna mengimbangi kondisi perekonomian AS yang mulai menunjukkan perlambatan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Langkah (pemangkasan suku bunga acuan) 25 basis poin masih merupakan kasus dasar kami. Tetapi kemungkinan pemotongan yang lebih agresif meningkat semakin lama kita berada dalam periode volatilitas ekstrim dan ketidakpastian," kata Kepala Penelitian Pendapatan Tetap Bank Wealth Management AS Bill Merz, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 17 Agustus 2019.
 
Kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang bisa mengirim AS ke resesi telah memicu gejolak pasar. Apalagi, indeks saham utama di Wall Street rata-rata turun lebih dari dua persen pada perdagangan Rabu lalu di tengah gejolak di pasar obligasi. Meski sempat membaik, tapi kondisi tersebut belum cukup untuk meredam ketakutan di Wall Street.
 
Lebih lanjut, terjadinya kurva imbal hasil terbalik tidak dipandang secara otomatis sebagai indikator resesi, meskipun daya prediksinya sangat kuat di masa lalu. Pakar pasar melihat kondisi kurva imbal hasil terbalik ini terjadi setidaknya dikarenakan didorong oleh beberapa elemen yang belum ada dalam kasus sebelumnya.
 
"Minimal, ini adalah bendera kuning. Ada beberapa aspek dari apa yang terjadi yang memberi kita sedikit lebih banyak jeda tentang seberapa negatif sinyal ini, sebagian besar karena faktor teknis," kata Kepala Alokasi Aset Amerika UBS Global Wealth Management Jason Draho.
 
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan untuk menunda pengenaan beberapa tarif impor Tiongkok menjelang Natal. Hal itu dilakukan guna membendung dampak potensial terhadap perekonomian saat warga AS meningkatkan konsumsinya dengan berbelanja pada momen Natal.
 
Administrasi Trump mengumumkan akan menunda pengenaan tarif hingga 15 Desember dari yang semula dijadwalkan berlaku 1 September. "Kami melakukan ini untuk musim Natal. Kalau-kalau beberapa tarif berdampak pada pelanggan AS," kata Trump.
 
"Sejauh ini mereka sebenarnya tidak punya (dampak terhadap AS). Tapi antisipasi dilakukan untuk menghindari dampaknya terhadap masyarakat. Apa yang kita lakukan adalah menunda (pengenaan tarif baru untuk Tiongkok). Sehingga mereka (tarif baru) tidak akan relevan dengan musim belanja saat Natal," tutupnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif