Data resmi pada Senin waktu setempat menunjukkan ekonomi terbesar ketiga di dunia itu menyusut menjadi 0,8 persen secara tahunan pada Juli-September setelah terkontraksi sebesar 0,7 persen pada kuartal sebelumnya. Angka tersebut menempatkan Jepang ke dalam resesi selama dua kuartal berturut-turut.
Reuters melansir, Senin, 16 November, laporan data tersebut menyoroti reformasi struktural yang bertujuan untuk menerobos hambatan pada sisi penawaran termasuk kekurangan tenaga kerja dalam masyarakat, yang menderita deflasi kronis selama lebih dari 15 tahun.
"Pertama Abenomics, dua panah dari stimulus moneter dan fiskal yang dimaksudkan untuk menghalau resesi, tapi Jepang gagal membuat kemajuan terhadap reformasi untuk meningkatkan potensi pertumbuhannya," kata ekonom senior di BNP Paribas Securities, Hiroshi Shiraishi.
"Tanpa reformasi, potensi pertumbuhan ekonomi tetap rendah, sehingga rentan terhadap guncangan dan menderita resesi lebih sering," lanjut dia.
Menteri Ekonomi Jepang Akira Amari mengatakan saat konferensi pers setelah data itu dipublikasikan, mencatat kekurangan tenaga kerja yang tersedia bagi proyek pekerjaan umum untuk merangsang ekonomi. Dia pun menyoroti kebijakan tersebut, di mana kendala utama yang dihadapi adalah pekerja yang cukup cocok untuk membangun pertumbuhan.
Amari pun mengiyakan ketika ditanya apakah ia melihat tidak perlunya anggaran tambahan demi merangsang permintaan langsung, meskipun Menteri Keuangan AS Jack Lew mengusulkan bahwa Jepang harus memberikan dukungan yang lebih di bidang fiskal untuk memastikan kembali ke pertumbuhan -yang dipimpin oleh permintaan domestik.
Dia pun mendesak perusahaan-perusahaan Jepang untuk menggunakan dana mereka demi meningkatkan upah dan meningkatkan belanja modal untuk menghasilkan pertumbuhan yang dipimpin oleh sektor swasta.
Selain itu, Amari mengimbau kepada perusahaan-perusahaan swasta ini untuk tidak hanya menuntut lebih banyak lagi stimulus ketika pertumbuhan tersebut tetap sulit dicapai. Tapi Amari menargetkan sektor korporasi yang telah menunjukkan sedikit antusiasme untuk prospek ekonomi Jepang.
Indeks sentimen bagi produsen, Reuters Tankan, pekan lalu turun di November dari Oktober, dan merupakan yang terendah sejak April 2013. Indeks sektor jasa turun pada Oktober turun ke level terendah sejak Maret, terseret oleh grosir dan pengecer.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News