Ilustrasi. FOTO: AFP
Ilustrasi. FOTO: AFP

Kesepakatan Dagang AS-Tiongkok Sangat Penting bagi Chili

Ekonomi chile as-tiongkok Perang dagang
Medcom • 30 November 2019 18:02
New York: Wakil Menteri Perdagangan Chili Rodrigo Yanez mengungkapkan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok menyumbang hampir 50 persen perdagangan Chili. Artinya, kesepakatan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak tersebut sangat penting bagi perekonomian Chili.
 
"Kami memasok banyak pabrik yang mengekspor kembali dari Tiongkok ke AS. Dan cara kami melihat penurunan, beberapa dari ekspor itu adalah sesuatu yang sangat penting, tidak hanya untuk mengaktifkan ekspor kami," tuturnya, tentang kesepakatan perdagangan antara Beijing dan Washington, seperti dikutip dari Xinhua, Sabtu, 30 November 2019.
 
Dia menambahkan Chili sangat tergantung pada harga komoditas yang telah berubah-ubah akibat perang dagang AS-Tiongkok. Tidak ditampik perang dagang di antara kedua negara terbesar dari sisi perekonomian itu sudah terjadi lebih dari setahun. Bahkan, efek negatif telah dirasakan masing-masing negara.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Yanez berharap ada keterlibatan kedua negara untuk melanjutkan negosiasi dan nantinya mencapai kesepakatan dari sisi perdagangan. "Itu kata kunci bagi kami, bahwa AS dan Tiongkok dapat menemukan jalan mereka untuk perjanjian, karena negara-negara seperti negara saya di negara berkembang membutuhkan kepastian lebih lanjut dalam hal ekonomi," katanya.
 
"Itu lah sebabnya kami mengharapkan perjanjian ini akan disampaikan," tambahnya.
 
Di sisi lain, kesepakatan perdagangan fase satu antara Amerika Serikat dan Tiongkok berpeluang dapat diselesaikan dan ditandatangani sebelum Natal tahun ini. Tentu penandatanganan fase satu tersebut menjadi penting karena bisa menstabilkan aktivitas perdagangan dan ujungnya terhadap perkekonomian dunia.
 
Tidak ditampik, optimisme negosiasi dagang antara AS dan Tiongkok sirna dalam beberapa hari terakhir menyusul adanya laporan bahwa Washington dan Beijing memiliki beberapa masalah. Sebuah sumber Pemerintah Tiongkok mengatakan Tiongkok memiliki masalah setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dia belum setuju untuk mencabut tarif.
 
Namun demikian, Direktur Pelaksana dan Wakil Ketua Pimco John Studzinski berpandangan, masih ada peluang kedua negara mencapai kesepakatan. Adapun Pimco merupakan perusahaan raksasa investasi dan obligasi. "Jelas ada masalah yang tersisa tentang target pembelian pertanian, teknologi paksa (transfer) dan masalah penegakan hukum yang lebih luas," ucapnya.
 
"Tapi saya pikir pandangannya adalah untuk mencoba menyelesaikan sesuatu pada awal Desember dan menandatanganinya sebelum Natal. Dan saya pikir Trump melihat ini penting. Dia mendapat banyak dukungan dari CEO Amerika yang ingin melihat beberapa jenis stabilisasi," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif