Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Euro Terdepresi Imbas Ketidakpastian Jerman

Ekonomi zona euro
21 November 2017 09:05
Jerman: Mata uang euro menghadapi tekanan baru di perdagangan Asia, kemarin, setelah Kanselir Jerman Angela Merkel gagal membentuk pemerintah koalisi pada akhir pekan. Hal itu memicu ketidakpastian ekonomi terbesar di Eropa.
 
Beberapa pasar saham Asia melakukan aksi jual di Wall Street saat ketiga indeks utama di kawasan tersebut ditutup dalam keadaan merah karena aksi ambil untung dan kekhawatiran bahwa anggota parlemen Amerika Serikat (AS) akan berjuang untuk melewati rencana pemotongan pajak Presiden Donald Trump.
 
Pemimpin FDP probisnis, Christian Lindner, keluar dari perundingan, dengan mengatakan tidak ada dasar kepercayaan untuk membentuk pemerintah dengan aliansi konservatif Merkel CDU-CSU dan Partai Hijau.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tanpa koalisi lain yang layak terlihat, Jerman mungkin dipaksa mengadakan pemilihan baru yang berisiko tidak meyakinkan, seperti pemilihan pada September lalu. Merkel telah dipaksa mencari koalisi dengan kelompok partai yang tidak mungkin setelah dalam pemungutan suara gagal meraih suara mayoritas di parlemen.
 
Meski kecewa dengan keputusan FDP itu, Merkel berjanji mengarahkan Jerman melalui krisis tersebut.
 
"Sebagai kanselir, saya akan melakukan segalanya untuk memastikan bahwa negara ini keluar dengan baik melalui masa sulit ini," katanya.
 
Para pemimpin Partai Hijau juga menyesalkan keruntuhan perundingan dengan mengatakan bahwa mereka percaya kesepakatan dapat dilakukan meski ada perbedaan.
 
Imbasnya, ada kekhawatiran negara itu bisa dicekam kelumpuhan selama berbulan-bulan, sedangkan masa depan politik Merkel juga dipertanyakan.
 
"Kabar negatif untuk euro, tapi implikasi jangka panjangnya belum jelas," kata Mansoor Mohi-uddin, kepala strategi mata uang di NatWest Markets yang berada di Singapura, kepada Bloomberg News.
 
Tetap Berjuang
 
Kendati demikian, Merkel tetap akan berjuang.
 
Dia telah sukses bertahan dari beberapa krisis, mengalahkan serangkaian pemimpin dunia, meski sekarang menghadapi pertarungan untuk kehidupan politiknya setelah jatuhnya pembicaraan untuk membentuk pemerintah koalisi.
 
Pada masa pergolakan Trump, Brexit, dan banyak krisis global, perempuan berusia 63 tahun itu terlihat sebagai batu penjuru di sebuah negara yang peduli dengan tingkat pertumbuhan dan lapangan kerja yang patut ditiru.
 
Orang-orang Jerman telah mengucapkan terima kasih kepadanya.
 
Merkel, dengan gayanya yang pragmatis, sederhana, dan meyakinkan, tampaknya telah menyempurnakan seni untuk tetap berkuasa di negara kaya dan konservatif yang cenderung menyukai stabilitas ketimbang perubahan.
 
Meski begitu, setelah 12 tahun memimpin ekonomi terbesar Uni Eropa, pemimpin yang sering disebut sebagai perempuan paling kuat di dunia itu sekarang harus mengikuti pemilihan umum yang dipercepat pada saat dia semakin digambarkan memasuki masa senja di pemerintahannya.
 
"Di luar Jerman, dia dipandang dengan kekaguman saat memasuki tahun ke-13 jabatan kekanselirannya, tapi di parlemen, kekaguman itu telah surut," demikian komentar Spiegel Online beberapa hari yang lalu. (Media Indonesia)
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif