Analis: Pemilu Malaysia Guncang Ringgit
Ringgit Malaysia. (FOTO: dokumentasi Malaysia Online)
Jakarta: Obligasi dan ringgit Malaysia terperosok setelah pihak oposisi meraih kemenangan mengejutkan pada pemilu Malaysia.

Mahathir Mohamad, yang akan menjadi pemimpin negara terpilih tertua di dunia di usia 92 tahun, di luar dugaan menjadi pemenang di hari Rabu, menggeser koalisi Barisan Nasional pimpinan mantan PM Najib Razak.

"Investor internasional jelas terkejut menerima hasil pemilu ini, terutama karena harga belum merefleksikan bahwa koalisi Najib akan kalah begitu telak," tutur analis FXTM Lukman Otunuga, dalam hasil risetnya, Jumat, 11 Mei 2018.

Dia menilai Malaysia sepertinya akan mengalami periode dengan ketidakpastian tinggi pasca hasil pemilu yang mengejutkan ini. Ringgit terancam melemah karena ketidakpastian politik domestik, dan pasar domestik berisiko melemah pada saat pasar dibuka di awal pekan depan. 

"Kita perlu menyimak reaksi investor internasional dan badan pemeringkat terhadap perkembangan di Malaysia. Mahathir berjanji untuk menghapuskan pajak GST yang kontroversial di Malaysia, dan walaupun ini akan meningkatkan sentimen positif di Malaysia karena tidak ada Pajak Pertambahan Nilai, tapi pendapatan negara terancam menurun," jelasnya.

Di sisi lain, mata uang euro terhadap USD merosot ke level terendah baru di 2018 yaitu 1,1823 pekan ini karena penguatan dolar. Walaupun pasangan mata uang ini mulai pulih pada saat laporan ini dituliskan, namun prospeknya tetap sangat bearish. Dari aspek teknis, secara konsisten ditemukan lower lows (LL) dan lower highs (LH) di grafik harian.

Level support sebelumnya di sekitar 1,1900 dapat berubah menjadi resistance dinamis yang mendorong penurunan menuju 1,1810 dan kemudian 1,1770. Sebaliknya, breakout di atas 1,1900 dapat memicu pantulan teknikal yang kembali mengangkat harga menuju 1,1970.

Sementara itu harga minyak mentah global terus menguat di Kamis setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk keluar dari kesepakatan nuklir dengan Iran.

Harga WTI melonjak di atas USD71,50 karena prospek penurunan pasokan global setelah Amerika Serikat memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran. Peningkatan harga ini diperkuat oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terjadinya gangguan pasokan.

"Dari sudut pandang teknis, minyak mentah WTI saat ini sangat bullish di grafik harian. Momentum naik dapat mengantarkan harga menuju USD72 dalam waktu dekat," pungkasnya.

 



(AHL)