Ilustrasi (MI/RAMDANI)
Ilustrasi (MI/RAMDANI)

Negosiasi Tiongkok-Jepang-ROK Diharapkan Berjalan Mulus

Ekonomi perdagangan bebas ekonomi china tiongkok ekonomi jepang
Angga Bratadharma • 13 April 2019 16:04
Beijing: Tiongkok berharap ada kelancaran kemajuan negosiasi tentang Zona Perdagangan Bebas dengan Jepang dan Republik Korea (ROK). Jika negosiasi berjalan sesuai harapan diharapkan bisa memberi efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara.
 
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Lu Kang mengatakan pada konferensi pers bahwa putaran 15 perundingan tentang Zona Perdagangan Bebas Tiongkok-Jepang-ROK diadakan di Tokyo dari 9-12 April. Diharapkan hasil positif akan meletakkan dasar yang kuat untuk kerja sama komprehensif, dan kesepakatan yang saling menguntungkan.
 
Mengutip Xinhua, Sabtu, 13 April 2019, sejak pertemuan para pemimpin Tiongkok-Jepang-ROK ke-7 pada Mei tahun lalu, kerja sama di antara ketiga negara telah terus maju dan sudah menunjukkan momentum pembangunan yang baik. Ada harapan kondisi ini bisa terus membaik di masa mendatang.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tiongkok, Jepang, dan ROK dengan tegas mendukung perdagangan bebas dan secara aktif mempromosikan integrasi ekonomi regional. Putaran negosiasi zona perdagangan bebas ini menunjukkan tekad bersama ketiga negara untuk mempertahankan sistem perdagangan multilateral dan menentang proteksionisme dan unilateralisme.
 
"Memperhatikan tahun ini yang menandai peringatan 20 tahun kerja sama Tiongkok-Jepang-ROK maka ketiga negara sedang menghadapi peluang pembangunan baru," kata Lu.
 
Sebagai ketua kerja sama Tiongkok-Jepang-ROK pada 2019, Tiongkok bersedia bekerja sama dengan Jepang dan ROK untuk berhasil mengadakan serangkaian pertemuan dan kegiatan penting termasuk pertemuan para pemimpin, membuka babak baru dalam kerja sama dari tiga negara di sebuah titik awal sejarah baru, dan membuka dimensi baru dalam kerja sama.
 
Di sisi lain, Amerika Serikat dan Tiongkok secara umum telah menyepakati mekanisme pengawasan setiap aspek perjanjian perdagangan. Termasuk, mendirikan kantor penegakan hukum dari masing-masing negara. Hal itu diungkapkan Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, dalam siaran wawancara dengan CNBC.
 
Dia menekankan proses negosiasi terus mengalami kemajuan. Pada Selasa malam, dia melakukan panggilan khusus dengan Wakil Perdana Menteri (PM) Tiongkok, Liu He, yang dinilai cukup produktif. Diskusi akan berlanjut pada Kamis pagi waktu Washington.
 
"Kami cukup banyak sepakat tentang mekanisme penegakan hukum. Kami sepakat bahwa kedua belah pihak akan mendirikan kantor penegakan hukum yang menangani masalah bilateral," ujar Mnuchin, seraya menambahkan masih ada beberapa persoalan penting yang harus diselesaikan kedua belah pihak.
 
Mnuchin enggan menanggapi kapan kesepakatan dagang tercapai, atau apakah tarif AS terhadap komoditas Tiongkok senilai USD250 miliar akan dihapus. Hal itu tentu disayangkan mengingat Presiden AS Donald Trump belum lama ini mengatakan kesepakatan bisa tercapai sekitar akhir April.
 
Namun, Mnuchin tetap menolak untuk mengungkapkan kerangka waktu negosiasi. Dia menegaskan fokus AS saat ini ialah mendapatkan kesepakatan perdagangan yang tepat. "Segera setelah kami siap dan menyelesaikan perundingan, Presiden Trump akan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Penting bagi kedua pemimpin untuk segera bertemu," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif