Gubernur bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BoJ) Haruhiko Kuroda. (FOTO: JIJI PRESS/JIJI PRESS/AFP)
Gubernur bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BoJ) Haruhiko Kuroda. (FOTO: JIJI PRESS/JIJI PRESS/AFP)

BoJ Bahas Rencana Keluar dari Kebijakan Moneter yang Longgar

04 Maret 2019 12:58
Tokyo: Gubernur bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BoJ) Haruhiko Kuroda mengatakan bank sentral akan membahas dan berkomunikasi tentang waktu yang tepat rencana keluar dari
kebijakan moneter yang sangat longgar.
 
Mengutip Antara, Senin, 4 Maret 2019, Kuroda mengatakan BOJ tidak memiliki strategi keluar khusus sekarang, karena pihaknya akan mengambil waktu yang signifikan dalam mencapai target inflasi 2,0 persen.
 
Tetapi dia mengatakan keluar dari kebijakan ultra-longgar akan melibatkan kenaikan suku bunga karena kelebihan cadangan lembaga keuangan dengan BoJ, dan langkah-langkah untuk menyusutkan neraca bank sentral.

"Untuk memastikan pasar tetap stabil, penting untuk datang dengan strategi dan panduan pada waktu yang tepat tentang bagaimana untuk melanjutkan keluar," kata Kuroda.
 
"Ketika waktu yang tepat tiba, kami akan berdebat di pertemuan kebijakan kami tentang strategi keluar dan panduan, serta mengkomunikasikannya dengan tepat."
 
Kuroda juga menegaskan bahwa BOJ akan dengan sabar mempertahankan program stimulus besar-besaran untuk memastikan inflasi meningkat menuju target 2,0 persen.
 
"Ekonomi sedang mempertahankan momentum untuk mencapai target harga BOJ," tambah dia.
 
Pemerintah Jepang menargetkan tingkat inflasi mencapai dua persen sejak 2013. Namun, inflasi Jepang tak pernah mencapai target.
 
"Inflasinya rendah terus. Hanya 0,7 persen. Padahal dia menargetkan dua persen, tapi enggak pernah tercapai," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tokyo, Puji Atmoko, Jepang, Kamis, 31 Januari 2019.
 
Secara konsep dan pengertian, inflasi adalah kenaikan tingkat harga secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Keadaan ini terjadi saat nilai uang mengalami penurunan.
 
Puji menjelaskan tingkat inflasi yang rendah ini membuat daya beli masyarakat Jepang meningkat. Pendapatan para pekerja pun terus meningkat hingga 1,7 persen setiap tahunnya. Hal tersebut membuat tingkat keuangan masyarakat Jepang sangat baik. Bahkan, keuangan mereka telah mapan sejak usia muda.
 
Menurut dia, inflasi yang baik ialah rendah dan stabil. Selain itu, jelas dia, inflasi yang rendah dan stabil juga harus diikuti dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
 
Pada 2017, pertumbuhan ekonomi di Jepang sekitar 1,7 persen. Angka itu menurun menjadi 0,9 pada 2018. "Pada 2019 akan lebih tinggi 1,1 persen, tapi 2020 akan turun," ungkap Puji.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AHL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan