Ilustrasi (AFP/Ed Jones)
Ilustrasi (AFP/Ed Jones)

AS-Tiongkok Harus Kompromi dalam Pembicaraan Perdagangan

Ekonomi ekonomi amerika ekonomi china tiongkok as-tiongkok Perang dagang
25 Juni 2019 12:01
Beijing: Wakil Menteri Perdagangan Tiongkok Wang Shouwen mengatakan Tiongkok dan Amerika Serikat harus membuat kompromi terlebih dahulu dalam pembicaraan perdagangan. Hal itu penting dilakukan sebelum pertemuan yang dinantikan banyak kalangan antara Presiden AS dan Tiongkok dalam pertemuan puncak G20 pekan ini di Jepang.
 
Tiongkok dan Amerika Serikat pekan lalu menyatakan mereka akan menghidupkan kembali pembicaraan sebelum pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Xi Jinping. Harapan bahwa itu akan mengarah kepada penurunan perang dagang yang merusak ekonomi global telah disambut positif oleh pasar keuangan.
 
Pembicaraan untuk mencapai kesepakatan luas macet pada Mei, setelah para pejabat AS menuduh Tiongkok mundur dari komitmen yang disepakati sebelumnya. Berbicara pada konferensi pers di KTT G20, Wang mengatakan pembicaraan antara tim perdagangan kedua negara sedang berlangsung, meskipun ia tidak memberikan rincian.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Prinsip-prinsip Tiongkok sudah jelas, katanya yakni saling menghormati, kesetaraan dan saling menguntungkan serta masing-masing mencapai separuh jalan. "Saling menghormati berarti masing-masing pihak harus menghormati kedaulatan pihak lain," kata Wang, seperti dikutip dari Antara, Selasa, 25 Juni 2019.
 
"Kesetaraan dan saling menguntungkan berarti konsultasi harus terjadi atas dasar kesetaraan, perjanjian yang akan dicapai harus bermanfaat bagi kedua belah pihak. Memenuhi satu sama lain separuh jalan berarti kedua pihak harus berkompromi dan membuat konsesi, bukan cuma satu pihak," ungkap Wang.
 
Wang menolak untuk menjawab pertanyaan tentang kompromi spesifik apa yang Xi tawarkan untuk memenangkan kesepakatan perdagangan dengan Trump. Tim AS dan Tiongkok membuat persiapan bagi pertemuan Trump-Xi, kata Asisten Menteri Luar Negeri Zhang Jun dalam pengarahan yang sama, lagi-lagi tanpa memberikan perincian.
 
Kedua negara berada di tengah-tengah sengketa perdagangan yang mahal dan telah memberlakukan tarif yang semakin berat pada impor satu sama lain. Tiongkok telah berjanji untuk tidak menyerah pada masalah prinsip atau di bawah tekanan AS.
 
Trump telah mengancam untuk mengenakan tarif pada barang lain senilai USD325 miliar, mencakup hampir semua impor Tiongkok yang tersisa ke Amerika Serikat, termasuk produk konsumen seperti ponsel, komputer dan pakaian.
 
Wang mengatakan meningkatnya proteksionisme telah meredam perdagangan global dan menjadi ancaman bagi ekonomi global. Sementara Wakil Gubernur Bank Sentral Tiongkok Chen Yulu memperingatkan bahwa risiko ekonomi dan keuangan global meningkat secara signifikan.
 
"Tanda-tanda pembalikan kebijakan moneter di negara-negara maju utama menjadi lebih jelas. Pada saat yang sama, ruang kebijakan banyak negara setelah krisis telah berkurang dan ruang untuk mengatasi perlambatan ekonomi yang tajam terbatas," pungkas Chen.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif