Gedung The Fed (FOTO: AFP)
Gedung The Fed (FOTO: AFP)

Pelaku Pasar Kembali Minta Fed Turunkan Suku Bunga

Ekonomi ekonomi amerika the fed
Angga Bratadharma • 20 Juli 2019 21:01
New York: Seperti Ben Bernanke dan Janet Yellen, Ketua Federal Reserve Jerome Powell mungkin juga memiliki kekhawatiran tersendiri bahwa penggunaan kebijakan ekstrem bank sentral selama krisis keuangan membuat dia memiliki sedikit kekuatan untuk mencegah penurunan ekonomi berikutnya.
 
Kondisi itu mungkin memunculkan gagasan tentang apa yang disebut penurunan suku bunga di akhir bulan ini, sebuah opsi menarik bagi Ketua the Fed, yang tampaknya bertekad untuk memangkas suku bunga acuan. Bahkan hal tersebut ketika ekonomi domestik tampaknya menunjukkan beberapa tanda kekuatan.
 
"Cukup luar biasa seberapa kuat data yang ada. Kami menambahkan 224 ribu pekerjaan. Kami memiliki laporan penjualan ritel yang luar biasa kuat, kenaikan 0,3 persen dalam inti CPI bulan ke bulan. Survei manufaktur sedang rebound dan klaim pengangguran melayang pada posisi siklus terendah," kata Kepala Ekonomi AS di Bank of America Michelle Meyer.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Seperangkat data yang menuju ke pertemuan FOMC berikutnya benar-benar sangat kuat (untuk merealisasikan pemangkasan suku bunga acuan oleh the Fed)," kata Meyer, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 20 Juli 2019.
 
Namun, Meyer seperti kebanyakan ekonom Wall Street yang mengharapkan Powell Fed pada 31 Juli untuk menarik pelatuk pada penurunan suku bunga seperempat poin. Sedangkan para investor di pasar keuangan meningkatkan taruhan mereka bahwa the Fed dapat memotong suku bunga acuan lebih dalam di akhir bulan ini.
 
"Ini adalah Fed yang merupakan data independen. Mereka tidak memotong suku bunga karena data yang masuk. Mereka memangkas suku bunga karena mereka khawatir tentang data masa depan dan mereka bersikap pre-emptive," tukas Meyer.
 
Di sisi lain, pemotongan suku bunga Amerika Serikat yang diperkirakan bakal dilakukan oleh Federal Reserve akan memberi Tiongkok lebih banyak ruang bernafas dalam menopang perekonomiannya yang tengah melambat. Tidak ditampik, Presiden AS Donald Trump terus memberikan tekanan kepada the Fed agar melonggarkan kebijakan moneternya.
 
Lingkungan kebijakan moneter yang lebih longgar di AS akan mengurangi tekanan pada bank sentral Tiongkok untuk melonggarkan kebijakan moneter. Di tengah ketegangan perdagangan dengan AS, ekonomi Tiongkok tidak dipungkiri telah berjuang untuk mendapatkan momentum.
 
Survei swasta yang dirilis minggu lalu oleh Caixin menunjukkan aktivitas layanan turun pada Juni ke level terendah sejak Februari, dan sektor manufaktur mengalami kontraksi, setelah tiga bulan ekspansi. Kondisi ini salah satunya diakibatkan oleh perang dagang yang sedang terjadi antar Beijing dengan Washington.
 
Adapun di antara beberapa langkah untuk mendukung perekonomian selama beberapa bulan terakhir, People's Bank of China (PBoC) telah melakukan upaya yang ditargetkan untuk menurunkan biaya keuangan kepada perusahaan-perusahaan yang dikelola secara pribadi, yang merupakan mayoritas pendukung pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja negara.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif