Gedung The Fed (FOTO: AFP)
Gedung The Fed (FOTO: AFP)

Data Pekerjaan Jadi Pertimbangan Fed Sesuaikan Suku Bunga

Ekonomi ekonomi amerika the fed
06 Juli 2019 21:00
New York: Dalam kurun waktu 10 tahun menuju pemulihan, kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja baru mungkin melambat baik karena Amerika Serikat (AS) kehabisan tenaga untuk menciptakan lapangan kerja maupun karena perang perdagangan yang berlarut-larut dan membuat pengusaha khawatir.
 
Mengutip CNBC, Jumat, 6 Juli 2019, ekonom berharap melihat 165 ribu pekerjaan ditambahkan pada Juni, setelah 75.000 gaji yang sangat rendah ditambahkan pada Mei, menurut Dow Jones. Adapun laporan data tenaga kerja (ADP) dipandang sebagai input utama bagi the Fed untuk mempertimbangkan menyesuaikan suku bunga acuan.
 
Jika ada lebih banyak pelemahan dari yang diharapkan dalam pertumbuhan pekerjaan atau data upah, itu bisa menjadi katalis lain untuk pemotongan tingkat suku bunga yang diharapkan oleh pelaku pasar dan Presiden AS Donald Trump. Tidak ditampik, the Fed masih bertahan untuk tidak menurunkan suku bunga meski Trump mengkritik tajam.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam sebuah laporan Juni, tingkat pengangguran diperkirakan tetap stabil di 3,6 persen. Sementara upah rata-rata per jam diperkirakan meningkat sebanyak 0,3 persen atau menjadi 3,2 persen dari tahun ke tahun. Dalam konteks ini, pemerintah terus berupaya menjaga agar pergerakan pengangguran tidak membengkak.
 
"Kami sudah dikenal untuk sementara waktu dengan tingkat pengangguran yang sangat rendah. Dan kami kini kehabisan pekerja. Penggajian akan melambat di beberapa titik. Saya tidak tahu apakah ini intinya atau tidak," kata Kepala Ekonom Keuangan MUFG Union Bank Chris Rupkey.
 
Di sisi lain, defisit perdagangan Amerika Serikat melonjak pada Mei dan ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok membantu mendorong aktivitas di sektor jasa ke level terendah dua tahun pada Juni. Kondisi ini menjadi tanda-tanda lebih jauh bahwa pertumbuhan ekonomi melambat tajam pada kuartal kedua.
 
Prospek suram ekonomi juga digarisbawahi oleh data lain yang menunjukkan pengusaha swasta menambahkan pekerjaan jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan pada bulan lalu. Pesanan baru untuk barang-barang manufaktur turun pada Mei untuk bulan kedua berturut-turut.
 
Laporan tersebut mengikuti data investasi perumahan dan bisnis yang lemah baru-baru ini, serta belanja konsumen yang moderat. Kepercayaan bisnis dan konsumen telah menurun. Perlambatan dalam kegiatan juga terjadi karena stimulus besar-besaran tahun lalu dari pemotongan pajak dan pengeluaran pemerintah yang lebih banyak.
 
Bank sentral AS bulan lalu mengisyaratkan pihaknya dapat melonggarkan kebijakan moneter secepatnya pada pertemuan 30-31 Juli, mengutip meningkatnya risiko terhadap ekonomi dari perang perdagangan antara Washington dan Beijing, dan inflasi yang rendah. Sedangkan Dana Moneter Internasional (IMF) telah menurunkan estimasi pertumbuhan global.
 
"Orang bertanya-tanya berapa lama Washington akan terus mengklaim bahwa mereka membantu ekonomi AS. Salah satu faktor di balik kejatuhan ekonomi dalam depresi hebat adalah proteksionisme dan perang dagang, dan itu akan menjadi keajaiban jika ekonomi dunia dapat menghindari penurunan lain kali ini," kata Kepala Ekonom MUFG Chris Rupkey.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif